Tragedi Dibalik Bencana

16.16 Posted In Edit This 0 Comments »
Di tulis oleh : Irza Setiawan



Suara gerimis terus memacu dalam keheningan malam yang panjang, udara dingin terus meresap kulit, angin terus bergumpal-gumpal seakan mau menghancurkan udara malam, rasanya jaket yang kukenakan tidak cukup untuk menahan ganasnya dingin, kuliat wajah istriku yang nampak lebih anggun di balut mukena sucinya, kami sudah melaksanakan shalat malam bersama, meraih cinta ilahi dalam sepertiga malam, berjuang bersama dalam ikatan doa sebagai simpul kelemahan, sebagai hambaNya yang kadang merasa kurang di balik kemampuan yang telah di anugerahkan, kibaran sejuknya air wudhu nampak masih kurasakan di setiap inchi kulitku.

Istriku bernama Anna, dia adik kelasku semasa SMA sekaligus patner diskusiku dalam hal keagamaan, kami memang sudah lama saling mengenal namun baru akrab setelah kami memasuki dunia perkuliahan, kedekatan kami semakin erat ketika bersama-sama masuk dalam organisasi Lembaga Dakwah Kampus, dan akhirnya ikatan pun terwujud, aku bersanding dengan seorang perempuan yang selalu kupanggil bidadari dalam setiap puisi-puisiku yang tercipta, hal yang selama ini kumimpikan tercapai.

Anna mencium telapak tanganku dan kemudian berjalan mengambil ayat suci Al Quran, sayup-sayup kudengar Surat Al-Mulk dia bacakan, kuresapi kemerduan suaranya seakan nyanyian para bidadari surga, sungguh menyentuh hati dan menajamkan pikiran, sementara itu aku mempersiapkan diri untuk menjemput rezeki demi sesuap makan, berjuang mengemban amanah sebagai seorang suami demi kebahagiaan istri yang kucintai, kubersihkan debu-debu yang menempel di sepeda bututku, Nampak butiran putih terbang melayang seakan kapas tertiup angin, menodai tiap butiran cahaya bulan yang menyinari halaman rumahku.

“ Kak Tria, ini kopi hangatnya diminum dulu. “

Suara lembut dari Anna membuyarkan lamunanku, bayangan terik mentari serta serangan debu saat menapaki jalan untuk menjemput rezeki mulai menghilang.

“ Gimana penjualan bukunya kak? “

“ Alhamdulillah, buku kakak laku keras, maklumlah selama nulis kan dik Anna yang jadi sumber inspirasi. “

Pujianku yang terlalu berlebihan sayup-sayup membuat bibir tipis istriku tersenyum, wajahnya yang putih terlihat semakin manis saja.

“ Ya udah tuan pangeran, itu kopinya di habiskan dulu, nanti telat berangkatnya. “

“ Oke deh tuan puteri. “

Kehidupanku memang sederhana, aku hidup dibalik kertas dan pena, menulis setiap kejadian yang selalu menelisik hati, membingkainya dalam kalimat yang liku, melincah dan kadang bernyanyi, sehingga menjadi sumber cerita yang dapat dibaca setiap orang, aku berangkat dengan lambaian tangan istriku, untuk mengantarkan naskah dari novel baruku ke penerbit, mencoba saling berbagi dengan setiap orang lewat tulisan yang kadang masih sangat kurang dan perlu perbaikan, kemampuan menulisku memang masih minim sehingga aku terbiasa berdiskusi dengan para penulis senior yang sangat kukagumi, ada kang Oleh Solihin yang biasanya selalu meneliti rangkaian kata yang kutulis, ada mas Taufiqqurahman Al Azizy yang selalu membimbingku untuk menulis tentang hal perenungan, ada mas Salim A Fillah yang biasanya terus mengkaji makna hadist yang kutulis, terus ada mas Fahri Asiza yang kadang membimbingku saat tulisanku mubazir kata, serta beberapa penulis lain yang nama-namanya tidak bisa kusebutkan satu per satu, begitu banyak saran-saran dari para seniorku yang menjadi sumber ilmu meski kemampuanku terlalu kurang untuk menangkap ilmu-ilmu mereka.

***

Matahari mulai menampakkan senyumannya di langit biru, hawa panas yang menyelimuti kulit mulai terasa, mataku menelisik di sepanjang jalan dimana muda mudi berseragam sekolah tanpa ikatan pernikahan sedang berboncengan sambil berpelukan di atas kendaraan, aku terus melangkahkan kaki sampai melihat orang pacaran di samping jalan, saling berpegangan tangan tanpa peduli kepada siapapun, umbaran aurat begitu banyaknya kulihat di persimpangan taman, begitu banyaknya kilauan rambut dari para gadis belia sehingga membuat mataku tak bisa menahan, pakaiannya pun benar-benar seperti orang miskin yang kekurangan kain, terlalu kontras menampakkan tubuh mereka, dasar godaan, pantas saja tingkat perkosaan semakin merajalela kalau suguhan-suguhan seperti ini terus dibiarkan.

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan setiap kejadian, kepalaku terlalu sakit untuk memikirkan tiap godaan seperti ini, perutku mulai keroncongan karena saatnya di isi makanan, ku dekati warung makan yang berdekatan dengan lampu lalu lintas, sepiring nasi goreng dan teh hangat mulai mengukir senyuman di bibirku, di tambah kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk renyah sebagai pelengkap aneka rasa makanan, benar-benar penambah semangat selera makan.

“ Bro, hasil panen kita sekarang melimpah banget, ternak kita semakin banyak sehingga uang yang kita dapat semakin menumpuk. “

“ Tentu dong, kita kan pekerja keras. “

Sambil makan kudengar pembicaraan dua orang laki-laki di sampingku, wah rupanya mereka mendapat rezeki melimpah dari Allah, barangkali mereka mau mengadakan acara syukuran sebagai wujud terima kasih kepada Allah, ku teguk teh hangat untuk membasahi tenggorokan, lalu aku kembali menyimak pembicaraan dua lelaki ini.

“ Gimana kalau malam ini kita ajak warga sekampung, kita pesta besar-besaran, kita begadang sampai malam, mesan minuman keras segudang, dan tidak lupa wanita penghibur sebagai bonus suasana, hehehe… “

“ Pas banget tuh, dengan uang sebanyak ini kita bisa berjudi sampai kering, siapa tau kali ini menang, jadi uang kita semakin numpuk. “

“ Uhhuuuueekk…. Uhhueekk… “ tak sengaja aku tersedak ketika mendengar pembicaraan mereka. Gendang telingaku serasa mau pecah, apa tidak salah, berbagai nikmat dan karunia yang Allah berikan malah di balas dengan berbagai kemaksiatan, jantungku berdegup kencang seakan mau keluar dari dadaku, tubuhku bergetar hebat, rasanya aku tidak berpijak di bumi karena tidak tahan mendengar segala ocehan mereka, mulai mencari pelacur sampai penari perut, dari judi sampai minuman keras, serasa membuat telingaku meledak saja, rasanya ingin secepatnya pergi menjauh dari mereka, tapi nasi gorengnya enak, habisin dulu.

Aku berjalan pulang menuju rumah dengan rasa gemetar yang luar biasa, aku memang bukan malaikat yang bebas dari dosa, tapi sungguh aku berlindung kepada Allah dari kelemahanku sebagai makhluk yang kadang bisa terperdaya syaitan, sering aku merenung, saat memegang air panas di dalam gelas saja rasanya tidak kuat, panasnya minta ampun dah, apalagi sampai terjerumus ke lembah neraka yang jikalau penghuninya di keluarkan dan di taruh di bumi ini, maka seluruh dunia akan terbakar, karena betapa panasnya neraka itu, kemaksiatan nikmat sementara diganti dengan keperihan yang luar biasa lamanya, nauzubillah.

Di sudut jalan, kulihat orang-orang yang teler sempoyongan karena minuman keras, jalannya seperti mobil kehabisan bensin saja, jarakku dan jarak mereka semakin dekat.

“ Haloo Tria, pulang dari mana lo? “

Sapaan dari orang teler ini membuatku kaget, maklum teman satu kampung jelaslah tahu sama namaku, meskipun aku tidak mengenal siapa mereka

“ Pulang dari pengajian, kenapa? “

“ Hehehe, mau nyoba minum ini gak, enak lo.., masalah seakan lenyap di telan bumi.“ Orang gila ini menyodorkan segelas minuman kepadaku, akupun menatap sinis kepadanya.

“ Maaf gak minat, sudah ya aku pulang dulu. “

Aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan mereka, kalaupun ada mobil F1 ingin kukendarai saja dengan kecepatan maksimum, yang penting bisa menuju rumah secepatnya dan menjauh dari mereka.

Aku pulang ke rumah dengan keringat membanjir, namun senyumku mengembang karena bisa menjauh dari kemaksiatan, saat mendekat pintu rumahku serasa menemukan mutiara saja, kebahagiaan memuncak karena segala daya upaya lembah syaitan telah kulumpuhkan.

“ Assalamualaikum “

“ Waalaikum salam. “ Jawaban salam dan ukiran senyuman dari bibir manis istriku menyambutku, kulepas sepatu dan kemejaku, sementara itu Anna sudah menyiapkan segelas air putih sebagai peredam dahagaku, cuaca mulai gelap, ukiran senyuman matahari mulai meredup deganti dengan sapaan wajah bulan.

“ Capek ya kak, air hangat sudah adik siapin, mandi dulu biar wangi. “

“ Iya makasih dik. “

Aku berlalu dari istriku untuk menuju kamar mandi, membasahi setiap inchi tubuhku agar semangat dan tenaga pulih kembali.

***

Suara musik dari sebelah rumahku begitu gaduh, ternyata pesta yang di diskusikan warga kampung tadi tidak main-main, saat aku pulang dari mushala untuk shalat isya tadi saja jalanan sudah begitu ramai, terlihat beberapa meja di jalanan sebagai arena pertarungan judi, begitu banyak botol minuman keras terpampang jelas, apalagi wanita penghibur yang sungguh merusak suasana, aku berjalan pulang ke rumah dengan cepat, tanpa peduli dengan kumpulan orang gila yang membalas nikmat Allah dengan kemaksiatan itu.

Semakin lama suara musiknya serasa memecahkan gendang telinga saja, kulihat istriku di samping juga tidak bisa tidur dengan tenang, karena kerasnya suara itu.

“ Dik, sabar ya…., doakan saja semoga pesta mereka cepat usai, jadi kita bisa tidur dengan tenang. “

“ Iya kak. “

Kupeluk tubuh istriku dengan ribuan kasih sayang, mencoba memejamkan mata agar bisa menenangkan pikiran, dengan perlahan kedua mataku mulai menutup, kesadaranku mulai menghilang, dan buai-buai mimpi mulai hadir menemani imajinasi dari butiran syaraf otakku.

“ Dhhuuuuaarrrrrrrr……..!!!!!!! “

Suara ledakan yang begitu keras mengagetkanku, hampir saja aku melompat dari tempat tidur, terdengar suara teriakan para penikmat pesta itu, getar suara ketakutan menyelusup di telingaku.

“ Apa yang terjadi kak? “

“ Kakak gak tau dik. “

Aku dan Anna mulai keluar rumah, ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi sehingga suara berisik dan aroma ketakutan dari warga kampung yang membuatku penasaran terjawab, begitu keluar rumah, kurasakan air menggenangi jalanan dan mulai membentuk sebuah sungai, pesta kemaksiatan dari warga kampung bubar seketika, mereka berlarian kocar-kacir bagai kecilnya semut bagi sebuah dunia, Anna memegang tanganku erat sekali tanda dia ketakutan, kuliat bendungan air yang melindungi kampung kami jebol, air mulai memancar dengan derasnya bagai gelombang tsunami.

Di depanku terlihat air setinggi sekitar dua belas meter menyerang kampung kami, pohon-pohon tumbang seketika, rumah-rumah menjadi puing yang berserakan dimana-mana, beberapa orang hanyut, dengan sekali kibas tempat kami tergenang seketika.

“ Masya Allah…, lari dik….. Laaaaaarriii…..!!!!!!! “

Aku dan Anna saling berpegangan erat, melarikan diri dari kecaman kematian, pohon-pohon mulai tumbang karena di terpa arus air, rumahku tertimpa monster air itu sehingga pecah berantakan, kami terus berlari, dibelakangku dan Anna gelombang tsunami mengejar, mungkin menertawakan diriku yang tak berdaya dengan wajah pucat pasi, gelombang ini mulai memakan banyak korban, dari anak-anak sampai orang dewasa mulai hanyut karena ditimpanya.

Aku dan Anna terus berlari, sampai langkahku terhenti karena jalan mulai buntu.

“ Kakak…. “

Anna menatapku dengan wajah pucat, sementara jarak kami dengan gelombang luapan air semakin dekat, tidak mungkin lagi kami bisa melarikan diri, aroma kematian mulai terasa, seakan malaikat maut mulai menyapa, kupeluk tubuh Anna dengan luapan cinta yang luar biasa.

“ Dik Anna…, apapun yang terjadi…, kakak akan selalu mencintaimu, selamanya. “

“ Aku juga mencintaimu kak…. “

Kami berpelukan bagai tak bisa terpisahkan, jikalau aku harus mati hari ini, aku ingin mati dipelukan Anna, gelombang tsunami mulai mendekat, dan menghantam tubuh kami, kami terus berpelukan dalam arus air yang melulunlantahkan tubuh, kurasa kematian kami semakin dekat, kesadaranku mulai menghilang, dunia semakin gelap.

***

“ Tria……., Tria……… “

Sayup-sayup bayangan putih mengitariku, setiap kejadian mulai membayangi pikiran, kudengar ada seseorang memanggil namaku, semakin lama semakin jelas.

“ Tria….., cepet bangun…., nanti telat sekolahnya. “

Kubuka mataku, bayangan putih mengitari pemandanganku, dan nampak wajah seseorang berada di depanku, semakin lama pandanganku semakin jelas, kulihat sosok wajah ibuku di depanku mulai membangunkan tidurku.

“ Oh… ibu, kepalaku sakit sekali bu, apa yang terjadi.. “

“ Ayolah nak cepat bangun, sudah hampir pukul tujuh pagi, nanti kamu telat. “

Aku bangun dari tidurku, kuputar otakku mengingat segala kejadian yang menimpa, gelombang tsunami yang menimpa mulai menyapa pikiranku, rumahku yang hancur mulai terasa, dan Anna….., dimana Anna.., bagaimana caranya aku berada dirumahku seperti ini.

“ Bu…, Anna mana bu…. “ Aku bertanya kepada ibuku dengan degupan jantung yang hampir meledak, apakah Anna selamat dari bencana kemarin, sementara itu kulihat wajah cantik ibuku terlihat heran dengan pertanyaanku.

“ Anna siapa? Tria… Tria.., lagi jatuh cinta ya…, hehehe..anak muda sekarang, ada-ada saja… ya sudah sekolah yang rajin, jangan cinta terus yang dipikirin. “

“ Apa.., sekolah bu? “

“ Iya… sekolah, itu seragam SMA-mu sudah ibu siapin, jangan lupa sampaikan undangan perkawinan paman Yanor sama kepala sekolah. “ Penjelasan ibuku semakin semakin membuatku bingung.

“ Ibu ini bagaimana, paman Yanor kan sudah menikah lima tahun yang lalu. “

“ Kata siapa, ini undangannya, pamanmu itu menikah hari minggu ini. “

Kubaca dengan seksama undangan pernikahan pamanku itu, sementara itu aku semakin bingung seperti orang gila saja, mataku langsung melotot ketika melihat tahun di undangan, 2005.., kulihat kalender yang tergantung di dinding kamarku, tahun 2005, aku kaget bukan kepalang, bagaimana mungkin ini bisa terjadi. “

“ Bu ini tahun berapa? “ Aku bertanya kepada ibuku dengan perasaan semakin bingung tidak menentu.

“ ini tahun 2005 “

“ Apa bu…… tahun 2005….!”

“ Iya, ya sudah ini handuknya, kamu cepetan mandi, nanti telat sekolahnya. “

Aku mulai berjalan menuju kamar mandi dengan pikiran kosong, bagaimana mungkin ini bisa terjadi, masa gelombang tsunami bisa melemparku ke lima tahun yang lalu, apakah itu monster laut atau dimensi waktu, aku bingung tidak menentu, undangan, sekolah, dan sebagainya, apa tidak salah, mungkin kepalaku terbentur karena bencana kemarin, sehingga ingatanku terganggu dan aku akan meluncur ke dua atau tiga hari di masa depan, tapi kembali ke lima tahun yang lalu.., tidak mungkin..

Kupakai kembali seragam SMA-ku, lalu aku menuju sekolah dengan suasana hati tidak menentu, penggambaran lingkungan memang seperti masa lalu, handphone masih terasa asing sehingga hanya orang tertentu yang memilikinya, motor masih terasa jarang karena kebanyakan siswa masih memakai sepeda.

Pertemuanku dengan teman-teman semasa SMA semakin membuktikan bahwa aku memang terlempar ke masa lalu, suara bising sekolah, atap yang bolong sehingga dengan mudahnya hujan masuk, kantin sekolah yang selalu diliputi asap rokok dari siswa bandel, serta kepala sekolah yang seingatku meninggal di tahun 2008 tetapi di zaman ini masih hidup, dan sebagainya.

Aku duduk mendengarkan penjelasan guru tentang terciptanya dunia menurut teori aneh dan tidak masuk akal, bagaimana mungkin dua bintang besar bertabrakan sehingga menjadi sebuah dunia, dengan bumi yang ada gravitasi dan udara, atau gunung kokoh yang bisa menahan tiupan angin sehingga bumi terhindar dari kehancuran luar biasa, dengan aturan dan gerakan dunia yang luar biasa seperti ini penciptaannya, pasti ada yang mengatur semuanya sehingga kehidupan berjalan dengan sebagai manamestinya, tentunya ada Yang Maha mengatur segalanya sehingga setiap kehidupan di dunia ini tercontrol, yaitu Allah, bagaimana mungkin dua bintang besar bertabrakan, pecah berhamburan, lalu tercipta bumi, matahari, bulan, dan yang lain secara ajaib, sangat aneh dan bodoh, aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang-orang yang tidak beragama sehingga bisa menciptakan teori seperti ini, teori ini seperti dua mobil yang bertabrakan kecelakaan tetapi menjadi sebuah mobil mengkilap, mewah, dan tidak ternilai harganya, tidak akan mungkin.

Bel istirahat pun terdengar, aku keluar kelas dan terus mengasingkan diri, memikirkan kejadian aneh yang menimpa, aku duduk mematung sendirian sambil memandang para murid yang lain sedang bermain basket di lapangan olahraga, lalu sayup-sayup mataku menatap seorang siswi berwajah bersih dengan balutan kerudung yang mulia.

“ Anna……”

Aku baru ingat bahwa Anna adalah adik kelasku semasa SMA, dia adalah istriku dan kami satu hati, meskipun aku seperti tidak ada bedanya dengan orang gila sekarang, tapi pasti dia akan percaya bahwa aku berasal dari masa depan, kami sehati dan diciptakan Allah secara berpasangan, aku harus menjelaskan semuanya kepadanya.

Aku berlari menuju Anna sambil memanggil namanya, sementara itu Anna terlihat kaget dan menghentikan langkahnya, Anna membalik badan dan menatapku dengan rasa heran yang luar biasa.

Kupegang bahu Anna dengan gejolak rasa yang memburu, kebahagiaanku memuncak karena istriku masih sehat.

“ Anna…. Ini aku…, ini aku… “

“ Astagfirullah…., maaf kak… bukan muhrim, jangan memegangku seperti itu. “

“ Apa? Bukan muhrim…, ini aku suamimu…..”

“ Kakak ini bagaimana? Nikah saja kita belum, masa mengaku suamiku, kakak ini bernama Tria, ketua Lembaga Dakwah Sekolah, serta murid berprestasi di sekolah, sudah ingat belum. “

“ Anna, meskipun seluruh dunia tidak percaya kepadaku, tapi aku tau kamu akan percaya kepadaku, kita menikah tanggal 17 agustus 2008 dengan mahar novel tulisanku, terakhir ada bencana besar menimpa tempat kita sehingga kita terpisah, dan aku terbangun ke lima tahun yang lalu, apa kamu mengingat semuanya. “

Anna semakin bingung melihat tingkahku yang bagai kesurupan, wajahku semakin mengisyaratkan bahwa ada titik keseriusan yang benar-benar ingin kusampaikan kepadanya, aku tidak peduli meskipun akan disebut sebagai orang sinting yang punya jalan pikiran buntu, kulihat alis Anna terangkat, bibirnya terkatup rapat, wajahnya menampakkan kebingungan yang luar biasa.

" Ya sudah kak, ngobrolnya nanti saja ya, saya lagi ada pekerjaan sekarang. "

" Tapi Anna, ini benar-benar penting. "

" Iya nanti saja, Anna belum punya waktu buat kakak sekarang. "

Lalu Anna meninggalkanku dalam kesunyian yang mencekam, langit mulai gelap dengan taburan rintik hujan yang mulai membasahi bumi, kurasa ini tidak ada gunanya, haruskah aku melalui hari tanpa mengenal masa yang kulewati seperti ini.

***

Andai orang mengatakan ini tidur siang, meregangkan otot saraf yang letih karena aktivitas seharian, sesungguhnya anggapan itu salah, pikiranku selalu terganggu, bagaimana mengatasi masalah yang selama ini tidak pernah ada di dalam benakku, terlempar ke lima tahun yang lalu sungguh suatu masalah yang mustahil, apalagi harus kembali membayar iuran sekolah dan buku-buku pelajaran, ah... ini seperti mendapat kenangan yang nyata, kuraba saku celanaku untuk mengambil dompet, mencoba menghitung sisa uang yang tersisa untuk memperjuangkan hidup, kubuka dompetku itu dengan desahan nafas seorang pemalas sejati, lalu mataku menubruk pada foto yang tersimpan disana, jantungku seakan mau meledak karena kagetnya, sebuah foto pernikahanku bersama Anna terpampang jelas disana, ini foto dari masa depan, Ya Allah kenapa selama ini tidak terpikir olehku, kurasa hatiku mulai di sambut oleh para peri kebahagiaan, foto ini akan meyakinkan Anna, bahwa aku adalah suaminya yang terlempar ke masa lalu.

Kuliat kembali buku-buku yang baru saja kubeli dengan rasa senang, ada satu buku yang menarik perhatianku, kuambil lalu mulai kuteliti seluruh isinya, bola mataku seakan ikut hanyut mengikuti tiap rangkaian ilmu yang tersimpan di buku ini, sampai mataku menuju ke sebuah hadist yang menggetarkan hatiku.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.



Hadist ini seakan menyadarkanku dari tidur yang panjang, lalu aku teringat kembali tentang penjelasan dari guruku, bahwa dunia ini bagaikan sebuah kapal yang besar, dimana jika ada satu orang saja yang mengebor kapal ini, maka yang tenggelam bukan haja si pengebor, tapi seluruh penumpang kapal, dalam bencana besar yang menimpa, itu adalah sebuah azab dan teguran dari Allah, karena sikap saling menasehati dalam kebenaran sudah terasa kurang, memang orang yang maksiat bisa mengatakan 'yang maksiat diriku sendiri, pakai uangku sendiri, jadi kamu-kamu tidak usah ikut campur' sebuah ungkapan merusak yang tidak berperikemanusiaan.

Aku terlempar ke masa lalu pasti ada suatu makna yang terkandungnya, ini bukannya hanya kembali ke kenangan lalu, tapi sebuah kesempatan kedua, untuk memperbaiki masyarakat yang telah menabur maksiat, dalam segala kehidupan ini, teringat kembali diriku sebelum terlempar ke masa lalu, dimana penduduk kampung membalas nikmat yang Allah berikan dengan berbagai kemaksiatan, hiburan dengan musik yang menggangu istirahat, sulitnya menjaga pandangan karena tebaran aurat, berlimpahnya arena pertarungan judi sehingga menghabiskan harta sampai sekarat, menjamurnya minuman keras yang merusak, dan sebagainya.

Aku bangkit dari tempat tidurku, aku akan menjelaskan segalanya kenapa aku sampai terlempar ke masa lalu, segala pertimbangan dan perancangan harus kulakukan agar lima tahun kemudian aku dan Anna tidak kehilangan nyawa, aku ingin berjuang bersamanya untuk menyelamatkan seluruh masyarakat dari kematian, ini adalah sebuah perjuangan untuk mengubah keadaan di lima tahun kemudian, ini adalah perjuangan amar maruf nahi munkar untuk merubah masa depan.

Suasana siang yang panas,terik mentari yang berliku, udara yang penuh dengan debu tidak akan menghalangiku untuk menjelaskan segalanya kepada Anna, kebetulan sore ini dia sedang di sekolah karena urusan organisasi, karena itu ini sebuah kesempatan untuk menemui dan berbicara secara empat mata kepadanya.

Aku duduk menanti sambil terus melihat kelas yang tertutup rapat, tempat Anna dan teman-temannya sedang mendiskusikan kegiatan seminar sekolah, waktu terasa lambat jikalau dipakai untuk menunggu hal yang mendebarkan hati, mataku seakan tidak berkedip menatap pintu itu, jarum jam seakan terhenti sehingga menguji tiap kesabaranku, lalu lambat laun pintu kelas itu akhirnya terbuka juga, beberapa siswa mulai berhamburan keluar ruangan, bola mataku menangkap sosok Anna yang sedang berjualan menuju tempat parkir sekolah, aku langsung berlari menghampirinya, ini adalah kesempatan emas buatku untuk menjelaskan segalanya.

" Anna...., tunggu Anna. "

" Eh kak Tria, ada apa kak? "

" Lihatlah foto ini sebagai bukti bahwa ucapan kakak benar. "

Kuperlihatkan foto pernikahanku dengan Anna yang tersimpan di dompetku, Anna menatapnya dengan raut wajah heran, keningnya terangkat, aku tahu mungkin dia akan mengalami gelombang kebingungan yang luar biasa.

" Aneh kak... "

" Aneh kenapa Anna..? "

" Kapan kita berfoto berdua, Anna tidak ingat, pakai baju pengantin lagi. "

" Anna, percayalah ini foto di tahun 2008, aku adalah suamimu di masa depan yang terjebak di masa sekarang. "

" Kak.., sungguh ini sulit dipercaya. "

" Kakak paham, mungkin kamu bingung, tapi inilah bukti bahwa ucapan kakak benar, sebelum terlempar ke masa lalu, tempat kita mengalami bencana yang luar biasa, rumah kita lenyap dalam satu tiupan air, dan bencana ini terjadi karena sifat cuek kita disaat saudara-saudara kita yang bergelimang maksiat tidak kita perhatikan, kita sibuk dengan ibadah sendiri tanpa peduli dengan saudara-saudara kita yang terpuruk oleh dosa, tapi kali ini kakak akan berusaha memperbaiki diri, ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Allah untuk menyelamatkan dunia dari perantara kakak, tapi kakak butuh dukunganmu. "

Kulihat Anna terdiam membisu, bibirnya terkatup rapat, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, hanya saja matanya berkaca-kaca, menahan air mata yang hampir saja mengalir.

" Kak Tria, sungguh Anna masih bingung apa yang terjadi dengan perasaan Anna, tapi menikah denganmu, itu adalah impianku sejak kecil, dan kejadian aneh seperti ini sungguh memunculkan semangat baru di dalam hatiku, kakak... aku mendukungmu untuk menyelamatkan dunia. "

" Terima kasih Anna. "

***

Aku melangkah pulang sambil mengamati sekitar, panas matahari yang membakar tidak segerah siang tadi, mungkin senyuman awan sudah mulai melindungi bumi dari keganasan matahari, tidak lama kemudian bola mataku menatap sepasang lelaki perempuan berbocengan sambil berpelukan mesra, aku berlari sambil melambaikan tangan menyuruh mereka berhenti, si lelaki yang mengendarai motor itu mengerti dengan bahasa isyaratku, lalu menghentikan jalannya.

" Ada apa bro? "

" Maaf ya teman-teman, apakah siswi yang memelukmu itu istrimu. " Tanyaku dengan sopan kepada cowok itu, pasangan itu sekilas saling berpandangan

" Bukan, dia pacarku, emang kenapa? "

" Pacar kan belum ada ikatan, dan kulit kalian sebagai bukan mahram belum halal untuk bersentuhan, apalagi bermesraan di tempat umum seperti ini, maaf apa gak malu berbuat dosa sementara banyak mata menatap kalian. "

" Hei bos, ini pacar aku, mau ngapain saja terserah kita dong, lagian udah ada ikatan di antara kami, ikatan pacar, kubilang sekali lagi, kami sudah pacaran, jadi bebas dong kami sudah jadi pasangan, lagian yang bermesraan kami, pelukan kami, ciuman kami, apa urusannya denganmu, buang-buang waktuku saja kamu. "

" Maaf, pacaran itu bukan pernikahan, jangan dikira dengan kata pacaran kamu sudah bisa menodai cewek itu, kalau takdir berkata lain, kasian yang jadi suaminya nanti, karena istrinya sudah pernah disentuh atau dipeluk lelaki lain, pacaran tidak sama dengan pernikahan, itu hanya anggapan agar pelakunya bisa sewenang-wenang memuaskan syahwatnya kepada orang lain, kalau sudah puas, maka kata putus mudah di ucapkan tanpa mempertimbangkan kejadian yang sudah dilakukan. "

" Banyak omong kamu, kalau mau ceramah di masjid sana. "

Pasangan itu berkata kasar kepadaku dan langsung meninggalkanku, mungkin usahaku gagal kali ini, tapi aku yakin, Allah tidak melihat hasil yang di peroleh, insya Allah proses niat baikku ini bernilai pahala bagi Allah, sangat aneh orang yang berbangga dengan pasangan yang belum halal, lalu memamerkan dosa berwujud kemesraan di depan umum, janganlah kita lihat orang yang bermesraan di depan umum itu dengan kebanggaan, tapi lihatlah mereka seakan berkata, 'woi...,aku lagi berbuat dosa nih, kulitku siap ditembus besi neraka karena menyentuh orang bukan muhrimku' hmm.. karena itu sifat saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sangat diperlukan.

Aku terus melangkah menyusuri tiap jalan ini sampai mataku kembali menangkap orang berpesta minuman keras, kutarik nafas perlahan, lalu aku mendekati mereka.

" Maaf bapak-bapak, lagi ngapain nih? "

" Apa? lagi ngapain, lagi melayang ke surga bos, mau gak ni aku kasih sebotol buat kamu. "

" Ini kan minuman keras pak, bisa merusak otak, lagipula dosa besar meminumnya. "

" Udahlah anak muda, kamu jangan ngomong dosa disini, lagipula yang meminum aku sendiri, beli pakai duitku sendiri, dosanya juga aku yang menanggung sendiri. "

" Tapi karena maksiat kan muncul azab Allah yang berbuat dosa, azabnya bisa berupa bencana pak, dan kalau bencana turun, yang menanggung bukan hanya yang berbuat dosa saja, tapi orang yang tidaku berbuat dosa juga kena, kan kasian pak, kita menuju kepada Allah saja ya, terus beribadah kepadaNya dan saling menasehati sesama. "

" Jangan jadi malaikat kesiangan kamu. " Bapak itu mendekat dan menusukkan sebilah pisau diperutku, aku kaget bukan kepalang, tetesan darah mulai keluar dari tubuhku, pandanganku seakan buram, aku berusaha menjauh untuk melarikan diri, namun kondisiku semakin lemah, tubuhku roboh di pinggir jalan, darah terus menetes keluar sementara itu kudengar ada suara yang terus memanggil namaku.

" Kak Tria......, Kak Tria...... "

Dalam kondisi lemah, kulihat Anna mendekatiku dengan tetesan air mata yang terus mengalir.

" Anna......., maafkan kakak......, kakak belum bisa menyelamatkan dunia..."

" Kumohon kak..... jangan meninggal....., bertahanlah..... aku mencintaimu kak...."

Sayup-sayup kudengar suara Anna yang terus memanggilku, kesadaranku semakin menghilang, pandanganku semakin buram dan menjadi gelap, mungkin kematian sudah waktunya datang, selamat tinggal dunia..., ini waktunya aku bertemu dengan Sang Pencipta.

***

" Kak Tria......"

Mendadak tubuhku terasa segar, kesadaranku yang lenyap seakan kembali, suara lembut Anna memanggil namaku yang tadinya menghilang kurasakan dapat terdengar kembali, lama-lama suaranya semakin jelas.

" Kak Tria...., bangun kak... "

Mataku yang menutup seakan terbuka dengan mendadak, aku langsung bangkit dengan rasa aneh yang luar biasa, kulihat Anna disampingku dengan balutan mukena dan wajah bekas air wudhu.

" Alhamdulillah, bangun juga ternyata, nyenyak banget kakak tidurnya. "

" Anna, rumah kita Anna, bencana itu, penusukan itu, meninggalnya diriku, dan kenapa aku ada disini? "

Kulihat wajah Anna seakan bingung dengan penjelasanku, sementara itu aku terus menatap perutku yang baru saja ditusuk pemabuk itu, kulihat sekeliling yang menggambarkan segalanya, ingatanku mulai kembali, rasanya aku pulang kembali.

" Kakak ini bicara apa? Adik gak ngerti "

" Dik Anna, ini tahun berapa? "

" Nopember tahun 2010 kak, kenapa kak? "

" Alhamdulillah aku kembali. "

" Kembali apa kak? "

" Oh gak papa dik, yuk kita shalat malam bersama, sepertnya kakak terlalu nyenyak tidurnya. "

Aku melangkah menuju tempat air wudhu, sungguh diluar perkiraan, terlempar kemasa lalu itu ternyata hanya mimpi, dan bencana karena tebaran maksiat itu hanya mimpi, aduh... mimpi yang aneh, terus pesta kemaksiatan itu bagaimana ya, kok suasana tenang, mendadak aku kaget, rasa khawatir mulai datang kembali, jikalau pesta maksiat itu masih ada, bukan tidak mungkin segala mimpi itu akan menjadi kenyataan.

“ Dik Anna, di kampung kita masih ada pesta itu? “

“ Pesta apa kak? “

“ Pesta maksiat yang membuat kita tidak bisa tidur tadi malam. “

“ Kakak ini bagaimana, semenjak kejadian pembunuhan itu, kampung kita berubah, semuanya taat kepada Allah, dan setiap kemaksiatan di kampung kita perlahan lenyap. “

“ Pembunuhan, maksudnya…? “

“ Kejadian di tahun 2008 kak…, saat ada pemuda yang dianggap warga kampung kita sebagai pahlawan, dia mengobarkan nyawanya untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran untuk menolong orang bermaksiat dalam minuman keras agar kembali kejalan taubat, dia menyadarkan setiap warga kampung kita sehingga limpahan kasih sayang Allah turun dari langit ke tujuh, dia membuat kampung kita terhindar dari murka Allah lewat bencana karena kemaksiatan merajalela, dan satu hal lagi yang Anna bangga, nama pahlawan itu sama dengan nama kakak, Tria..



Selesai



Amuntai, 15 Nopember 2010
Irza Setiawan

Terinspirasi dari :

- Peristiwa mimpi penulis

- Hadist Riwayat Muslim

- Bencana di Indonesia

Buku Indahnya Menjemput Cinta Bidadari

02.20 Posted In Edit This 0 Comments »

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh, numpang promosi buku ya, semoga barokah :)



Judul : Indahnya Menjemput Cinta Bidadari
Penulis : Irza Setiawan


Wahai hati, katakan sejujurnya

Ini cinta atau nafsu

Saat hati berkata ini cinta

Mengapa mata ini bagai panah iblis yang bisa menusuk

Saat hati berkata ini cinta

Mengapa telinga ini bagai mendengar nyanyian syaitan terkutuk

Saat hati berkata ini cinta

Kenapa pertemuan ini selalu di kelilingi syahwat

Janganlah kau berkata kau mencintaiku

Jika cinta ini akan menjerumuskan kita

Tapi katakanlah aku ingin menikah denganmu

Mengambil Jalan Sucinya Ilahi

Sesuci cinta Yusuf dan Zulaikha

Yang lebih memilih penjara daripada terbuai nafsu

Seperti tegarnya cinta Ali dan Fathimah

Yang selalu di kelilingi surga meski kesulitan ekonomi melilit

Aku memang mencintaimu karena Allah

Karena itu kan kutempuh aturan Allah untuk mendapat cintamu

Buku ini saya tulis ketika hati merindukan sosok bidadari suci yang akan menjadi pendamping hidup saya, setiap masalah demi masalah yang saya alami, ketika diri ini di timpa kesedihan yang mendalam, saya mencari dan mentadaburi ayat-ayat Allah melalui Al Quran, dan dari ayat itu saya tulis dan saya kembangkan menjadi sebuah tulisan yang oleh Allah akhirnya menjadi sebuah buku yang insya Allah sarat hikmah dan pelajaran...

izinkan saya pribadi mempromosikan buku ini, berikut info tentang harga buku

1 buku Indahnya Menjemput Cinta Bidadari + Ongkos Kirim = Rp.50.000

Paket 1 : 5 buah Buku Indahnya Menjemput Cinta Bidadari + Ongkos Kirim = Rp 200.000

Paket 2: 10 buah buku Indahnya Menjemput Cinta Bidadari + Ongkos Kirim = Rp. 400.000

Bagi yang ingin memesan buku ini silakan sertakan Nama, Alamat Pengiriman, dan No Hp yang bisa di hubungi..
silakan kirim ke
irza.setiawan@yahoo.co.id

atau telpon / SMS di 081351115661

Silakan transfer ke BANK BPD KALSEL cabang kedai syariah Amuntai. No Rekening : 933.03.31.00032.1 atas nama IRZA SETIAWAN

Buku akan dikirim setelah Uang harga buku dan ongkos kirim di transfer

Cinta atau Nafsu

00.46 Posted In Edit This 0 Comments »

Wahai hati, katakan sejujurnya

Ini cinta atau nafsu

Saat hati berkata ini cinta

Mengapa mata ini bagai panah iblis yang bisa menusuk

Saat hati berkata ini cinta

Mengapa telinga ini bagai mendengar nyanyian syaitan terkutuk

Saat hati berkata ini cinta

Kenapa pertemuan ini selalu di kelilingi syahwat

Janganlah kau berkata kau mencintaiku

Jika cinta ini akan menjerumuskan kita

Tapi katakanlah aku ingin menikah denganmu

Mengambil Jalan Sucinya Ilahi

Sesuci cinta Yusuf dan Zulaikha

Yang lebih memilih penjara daripada terbuai nafsu

Seperti tegarnya cinta Ali dan Fathimah

Yang selalu di kelilingi surga meski kesulitan ekonomi melilit

Aku memang mencintaimu karena Allah

Karena itu kan kutempuh aturan Allah untuk mendapat cintamu



Irza Setiawan, Jum’at 1 oktober 2010

Kehidupan Irza Bersama Allah (2)

05.25 Posted In Edit This 0 Comments »
Ini zaman emang bikin pale puyeng bener dah, sering banget mati lampu, ada yang sampe tiap hari, ada juga yang kadang dalam empat hari sampe lima kali mati lampu, kata sebagian orang over dosis tuh, tapi kagak papa lah, kita mikir positif aje, kenaikan tarif dasar listrik di barengin ama seringnya mati listrik, mantep banget, kita doain aje, semoga Indonesia makin tua makin maju aja, kita percayakan sama pemimpin-pemimpin kita yang ngurusin ini kita punya Negara, karena mereka itu patut dikasihanin, amanah mereka atas kesejahteraan rakyat berat betul, perhitungan di akhirat berat banget, makanya harus kita dukung, jangan kita hinakan, kita doain mereka, dan jangan di pojokan.

Panasnye mantep banget siang ini, listrik mati dari pagi tadi, kagak nyala – nyala juga, shalat zuhur hampir aja masbuk karena itu genset punye mushala lagi ada gangguan, jadi azannya kagak kedengaran, hasilnya shalat sunat qabliyah ketinggalan, untung aja bisa shalat berjamaah tepat waktu.
Begitu agak sorean, sehabis makan di warung listrik nyala, yup saya udah bisa buka saya punya warnet, kipas angin udah bisa di nyalain, lumayan buat ngusir hawa panas yang bikin keringatan, kagak berape lama ni listrik mati lagi, bukan main dah, saya cek tuh tetangga saya, kira – kira pegimane lampunya, nyala atau kagak, di luar dugaan ternyata listrik tetangga saya nyala, Cuma toko saya doang yang padam, wuaduh….ini hati dongkolnya bukan main, marah betul saya, ya iyalah, sesabar-sabarnya manusia kan punya sifat marah juga, perkiraan saya kayaknya ada masalah sama listrik punya saya, ni otak langsung mikir kira-kira siapa yang bakalan bisa memperbaikin saya punya listrik, sebutlah saya menemui bapak A dulu, sambil masih dengan kejengkelan yang belum reda, saya ke rumah bapak A deh…
“ Assalamualaikum pak, listrik di toko saya lagi ada kerusakan, bisa memperbaikin gak “
“ Maaf, saya lagi sibuk. “
Gitu doang jawabannya, ini yang namanya jengkel makin menjadi – jadi dah, nah terus saya nyoba nelpon, sebut saja bapak B, minta tolong di perbaikin saya punya listrik, ternyata bapak B lagi pergi keluar kota, waduh pokoknya udah kagak karuan banget ini saya punya hati, kejadian ini terus berlangsung sampe bapak C dan bapak D, semuanya kagak bisa diminta bantuan.
Dengan masih duduk di atas kendaraan, nyantai di pinggir jalan, saya mulai merenung, kejadian ini pasti ada apa-apanya, masa saya nyoba usaha sampe empat kali gagal mulu, lama – lama saya mulai ingat filosofinya ustadz Yusuf Mansur tuh tentang lantai basah, “Kalau lantai basah, jawabannya bukan di pel, tapi cari dulu penyebabnya, oh.. ternyata gentengnya bocor pantesan “

Dari sini saya mulai merubah jalan pikiran saya, nyari penyebab saja kenapa hari ini saya sial betul, masalah mulu, sampe dongkol ini hati, tidak tau kenapa hati nurani saya berbicara tentang para peminta – minta, dulu saya punya niat yang sampe sekarang belum saya lakukan, tiap hari biasanya ada beberapa orang yang minta sumbangan, orangnya itu mulu, kagak ada yang lain, pokoknya tiap pagi datang minta sumbangan, sampe saya punya niat, kepengen ngebagian surat Al Waqiah ama mereka, biar ikhtiar mereka dalam mencari rezeki Allah bertambah, kagak minta – minta doang begitu, kan ada hadistnya tuh, Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata,”Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membaca surat al Waqi’ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan.” Jadi niatan saya supaya usaha mereka nambah gitu, selain minta – minta, juga ngamalin Al Waqiah biar rezeki Allah makin lancar buat mereka. Hati saya mulai berpikir nih, penyebab nomor satu apabila kita menunda – nunda kebaikan, maka insya Allah bisa muncul masalah.
Terus apalagi, selama nyari orang kan dengan hati marah tuh, jengkel, dongkol, macem–macem dah, anehnya makin dongkol ini hati, makin gagal saya nyari orang, saya ingat lagi tuh, “Orang yang kuat bukanlah orang yang jago gulat, tetapi (orang yang kuat itu adalah) orang yang mampu menahan diri¬nya ketika marah” (HR. Bukhari, Muslim, dan Abu Daud). Minimal penyebab nomor dua kenapa saya sial mulu ini lantaran belum bisa jaga hati dari sifat marah.
Saya merenung di pinggir jalan, sambil beristigfar ini hati, ini pasti skenario Allah banget nih, kenapa saya harus ngalamin hari yang aneh kayak gini, saat saya sadar, mulai ngebenahin hati, ada motor kenceng tuh, terus ini pengendara motor berhenti, tepat di samping saya, gara–gara handphonenya berdering, ada orang yang nelpon, sederhana kan Allah bikin handphone orang ini berdering, begitu tepat di samping saya di pinggir jalan, ini orang bercakap – cakap sebentar dengan orang yang di ujung telpon, dan ternyata subhanallah, orang ini adalah tukang listrik yang daritadi saya cari,
Kalau kita sudah ingat ke Allah, bakalan Allah cari’in buat kita, mati–matian kita nyari jalan kalau Allah kagak ridho kagak bakalan ketemu, hari ini saya bener–bener dapat pelajaran, ya udah bersambung dulu ya…….( Eitttss…. Kok bersambung lagi…, soal pernah jadi hamba Allah yang lupa pada Allah kapan???? ) hehe… entar deh di edisi berikutnya, insya Allah sekalian

Arti Bacaan Shalat

06.30 Posted In Edit This 0 Comments »

Bacaan Do’a Iftitah

ALLAHU AKBAR KABIERAW WALHAMDULILLAHI KATSIERA. WASUBHANALLAHI BUKRATAW WA-ASHILA.

“WAJJAHTU WAJHIA LILLADZIE FATHARAS SAMAWATI WAL ARDLA HANIEFAN MUSLIMAWWAMA ANAMINAL MUSYRIEKIEN. INNA SHALATI WANUSUKI WAMAHYAYA WAMAMATI LILLAHI RABBIL’ALAMIEN. LASYARAKIEKA LAHU WABIDZALIKA UMIRTU WA ANA MINAL MUSLIMIEN. “

Artinya :

Maha besar Allah, segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah pagi dan sore.

“ Saya menghadapkan muka saya kepada Tuhan pencipta langit dan bumi dengan rendah hati dan sejujur-jujurnya sebagai seorang muslim, bukan sebagai seorang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagiNya. Begitulah saya diperintah, dan saya sebahagian dari orang islam.

- Surat Al Fatihah

BISMILLA-HIRRAHMA-NIRRAHIM.

ALHAMDU LILLAHI-ROBBIL ‘ALAMIN. ARRAHMA NIRRAHIM. MALIKI YAUMIDDIN. IYYAKA NA’BUDU WAIYYA-KANASTA’IN IHDINASH-SHIRA-THAL MUSTAQIM, SHIRATHALLADZINA AN’AMTA’ALAIHIM GHAIRIL MAGHDHUBI ‘ALAIHIM. WALADL DLAALLIIN, AMIN

Artinya :

“ Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang pengasih dan penyayang. Yang menguasai hari kemudian. Pada-Mulah aku menyembah, dan kepada-Mulah aku meminta pertolongan. Tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Bagaikan jalannya orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat. Bukan jalan mereka yang pernah Engkau murkai, atau jalannya orang-orang yang sesat.

- Ruku

SUBHAANA RABBIYAL ADZIIMI WABIHAMDIHII ( 3 kali )

Artinya :

“Mahasuci Allah Maha Agung serta memujilah aku kepadaNya. “

- I’TIDAL

SAMI’ALLAAHU LIMAN HAMIDAH.

Artinya :

Allah mendengar orang yang memujiNya.

Pada waktu berdiri tegak ( I’tidal ) terus membaca :

“ RABBANAA LAKAL HAMDU MIL USSAMAWAATI WAMI UL ARDLI WAMIL UMAA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU “

Artinya :

Ya Allah Tuhan kami! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu

- SUJUD

“ SUBHAANA RABBIYAL A’LAA WABIHAMDIHII ( 3 kali )

Artinya :

“ Maha Suci Allah, serta memujilah aku kepada-Nya. “

- DUDUK ANTARA DUA SUJUD

“ RABBIGHFIRLII WARHAMNII WAJBURNII WARFA’NII WARZUQNII WAHDINII WA’AAFINI WA’FUANNII. “

Artinya :

“ Ya Allah, ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajat kami dan berilah rizqi kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku. “

- TASYAHUD / TAHYAT (AKHIR)

“ ATTAHIYYAATUL MUBAARAKAATUSH SHALAWAATU THTHAYYIBAATU LILLAAH ASSALAAMU’ALAIKA AYYUHAN NABIYYU WARAHMATULLAAHI WABARAKAATUH. ASSALAAMU’ ALAINAA WA’ALAA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN. ASJYHADU AL-LAA ILAAHAILLALLAAH, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAR RASUULULLAAH. ALLA HUMMA SHALLI’ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD, WA ‘ALA AALI SAYYI DINAA MUHAMMAD. “ KAMAA SHALLAITA ‘ALAA SAYYIDIINA IBRAHIM. WA’ALAA AALI SAYYIDINA MUHAMMAD, WA’ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD. KAMAA BARAKTA’ALAA SAYYIDINAA IBRAHIM, WA’ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAHIM, FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIDUM MAJIID.”

Artinya :

Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan bagi Allah, salam, rahmat, dan berkahNya kupanjatkan kepadamu wahai Nabi (Muhammad). Salam keselamatan semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah! Limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. “ Sebagimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. “ Diseluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia.”

- SALAM

“ ASSALAAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAAHI.

Artinya :

“ Keselamatan dan rahmat Allah semoga tetap pada kamu sekalian. “

Bumi Cinta Habiburahman El Shirazy

00.18 Posted In Edit This 0 Comments »


Ketika mendengar nama Habiburahman El Shirazy, mungkin kita bakalan ingat sama Ayat-ayat cintanya Fahri dan Aisyah, atau kita akan teringat sama Azzam dan Anna dalam Ketika Cinta Bertasbih, dan setelah nangkring di facebook, sibuk kesana kemari, saya menemukan info yang menarik, sebuah novel dengan cover bergambar masjid dengan kursi yang ditaburi salju-salju putih, yang paling menarik perhatian adalah nama penulisnya dengan huruf kapital dan tulisan yang besar sebagai daya tarik dari buku ini, novel kang Abik, begitu beliau biasa disapa memang sangat mengagumkan, orang bisa cepet kepengen nikah kalau ngebaca novel2 beliau, karena ciri tulisan beliau selalu memamerkan keindahan cinta yang suci di balut ikatan suci pernikahan… wuidih…
Kagak nyampe satu jam setelah mendengar info kang Abik nulis novel lagi, saya langsung meluncur ke toko - toko buku yang terpampang di daerah saya, dan Alhamdulillah ketemu juga ini buku, di sela kesibukan yang padat, saya berhasil nyelesain ngebaca bumi cinta dalam tiga hari, ceritanya memang mengalir lembut, indah, dan membuat penasaran, penggambaran lingkungan masih sangat kental seperti novel novel kang Abik sebelumnya, hanya saja kayaknya penokohan agak kurang, dan di bagian akhir cerita sepertinya kang Abik agak terburu - buru dalam menulis, ceritanya juga kalau boleh saya katakan bisa dibuat bersambung, karena masih begitu banyak kejadian yang belum di pecahkan, seperti Ainul Muna, tokoh seorang penulis handal yang katanya tunangan sama Muhammad Ayyas, namun di novel ini karakter si Ainul Muna tidak di gambarkan, belum lagi tentang Linor yang kagak tahu apakah masih bisa bertahan hidup atau keburu meninggal dalam novel itu, nah terus si Anastasia nih, yang harus cepet nikah karena berbagai macam pengaruh yang mengancam kehidupannya, namun misteri ini masih belum bisa di pecahkan karena ceritanya keburu selesai duluan, tapi meski begitu novel ini penuh hikmah dan pelajaran, khususnya bagi para remaja sekarang, pegimane caranya membentengi hidup dari pesona perempuan, hehehehehe….

Kehidupan Irza Bersama Allah (1)

06.09 Posted In Edit This 0 Comments »

Kemarin malam habis pulang dari ane punya toko, subhanallah dikasih ujan sama Allah, naik motor sampe ngesot-ngesot, alhamdulillah ini jalanan udah rata sama yang namanya aspal, kebayang deh tuh, zaman engkong babe gue, waktu ane masih kecil dulu, pas ujan ni jalan bakalan buecek…., tanah bakalan blepotan ama lumpur, pergi sekolah juga masih pake sepeda gunung, kalau bannya kempes di paksain aja deh, maklum yang namanye pompa zaman dulu masih langka, ini ban saat bergesekan ama itu tanah yang berdugul gak rata, bakalan bunyi…
Duit… duit….
Tahu aja ni sepeda kalo ane kagak punya duit, entar kalo udah ane makanin pake pompa baru tau rasa lo, bisa naik sepeda juga Alhamdulillah, kalo dulunya cuman jalan kaki doang, maklum SD ane dekat ama rumah, kagak nyampe seratus meter udah nyampe, kalo zaman sekarang mah beda, anak SD juga sudah megang hape, pake kamera lagi, subhanallah.. pantesan anak zaman sekarang cepat dewasanya.
Ane ingat dulu, kelas 3 SMA baru megang yang namanya hape, itupun make hape bunda, habis minder sama teman2 sekolah yang lain, pada pake hape semua, maklum lah zaman ane kecil dulu mungkin masih suka minder, meskipun ni hape super canggih, cuman bisa sms dan telpon doang, nadanya juga sangat sederhana, bukan hape layer warna, tapi alhamdulillah, syukurnya luar biasa, kemana2 di tentengin mulu itu hape, mau tidur di pencet2 mulu meskipun yang di pencet itu2 saja, pulsanyapun masih beluman ada, gayanye doang yang ada, hehe..

Kalo sekarang media udah canggih, tapi kalo kita kagak lebih canggih dari media bakalan repot, banyak anak2 yang bisa ngedapetin situs negatif hanya ngeklik dengan satu jari, film/cerita di tv juga lebih mempertontonkan kemesraan di luar batas, kemuliaan cewek cuman dinilai dari kemilau rambut dan putihnya kulit menurut iklan, masya Allah, karena itu bagi orang tua yang ngasih dia punya hape canggih kepada anak yang dibawah umur tanpa perhatian/pendidikan lebih, ingat aje tuh kata bang Napi apaan, WASPADALAH…!!! WASPADALAH…!!!
Kalo kita liat dari zaman sekarang nih ye.., anak2 smp aje udah bisa pacaran, malah katanye aje sih ye, moga aja kagak bener, katanye zaman sekarang sulit nyari remaja yang bibirnya masih perawan, masya Allah deh, kalo mendekati zina aja udah kayak belanjaan gini, pegimane zinanye.
Ane ingat tuh, kata Ustadz Yusuf Mansur nih yee…, hal pertama yang harus diperbaikin adalah shalat, shalat kan mencegah perbuatan keji dan mungkar tuh, nah kalo ada remaja yang doyan pacaran, doyan zina, kagak taubat2 juga, alias taubat tempe, apaan tuh taubat tempe, taubatnye karena kagak ada kesempatan, begitu ada kesempatan maksiat lagi, waduh.. berabe dah, bisa di cek tuh, pegimane shalatnya, udah pas ato belum, kalo kita ahli shalat khusuk mah kagak bakalan deh, demen ame hal begituan, ya kagak?
Dulunye ane juga pernah menjadi hamba Allah, yang kagak mengerti bahwa Allahlah jawaban dari permasalahan ane…, pengen tau kisahnye? Entar aje deh ye.., soalnye udah malam nih.., entar kita sambung lagi 
( Bersambung )

Mekarnya Pesona Bidadari

21.20 Posted In Edit This 0 Comments »

By : Irza Setiawan

Awan menghitam, sekelam langit malam, petir terus bersahut-sahutan, membuat gaduh suasana bumi, daun-daun berguguran, di terpa angin kencang, sudah dua jam lebih hujan terus mengalir, membasahi bumi, menggenangi setiap lubang di jalan, sehingga mirip danau yang di terpa lautan, di saat sang penguasa sibuk dengan kekayaan, sementara para rakyatnya kelaparan, tidak ingatkah meraka bahwa ada amanah yang terkandung di dalam jabatan, tidak seperti para khulafur rasyidin, yang siang malam menangisi sebuah jabatan, karena takutnya mengemban amanah, khawatir seekor kijang yang terperosok akibat lubang di jalan, apalagi seorang manusia.
Di serambi masjid, seorang pemuda duduk termenung, menahan suasana dingin, tidak ada yang menemaninya selain para malaikat yang tersenyum manis kepadanya, karena amalnya yang begitu mulia, matanya menatap kedepan, tetapi tatapannya kosong, pikirannya terus melayang, memikirkan dirinya di masa lalu, pemuda itu bernama Hafiz, sosok pemuda yang dikenal tanpa aturan, hidup dalam kemewahan, suka menghambur-hamburkan uang, siang malam dilaluinya dengan selalu berkelahi, sehingga dikenal masyarakat sebagai si tinju besi, mabuk sempoyongan, teler sampai jatuh kedalam got, judi sampai bangkrut, dan perbuatan nista lainnya, hanya saja dia sekalipun tidak pernah di sentuh wanita, meskipun banyak wanita nakal yang terpesona karena ketampanan wajahnya, tapi Hafiz tahu diri akan kehormatan dirinya.
Orang tuanya dikenal masyarakat sebagai ahli agama, tetapi sang anak hidup dalam pengaruh nista, akibat tak tahan dengan godaan syaitan durjana, bunda ayahnya sampai kehabisan akal dalam mendidik hafiz, tiga kali dia dimasukan kedalam pesantren, tiga kali pula dia dikeluarkan, karena perilakunya yang liar dan tanpa aturan, meskipun tingat kecerdasan Hafiz luar biasa, namun semua prestasinya seakan tidak berguna jikalau akhlaknya kurang mempesona.
Hingga di suatu malam, sebuah peristiwa yang sudah tercatat di lauh mahfuzh, megubah jalan hidupnya, bola matanya sendiri, melihat mobil ayahnya terpelanting di pinggir jalan, saat dua tubuh mulia terhimpit di badan mobil, meneteskan darah segar yang harum mewangi, para malaikat menjemput dua roh mulia, dengan senyuman termanis yang di lihat ayah bundanya, mengantarkan mereka bertemu Yang Maha Kuasa.
Hafiz baru mengenal bagaimana rasanya kehilangan, di tinggalkan dua mutiara yang selama ini di cintainya, dengan segenap jiwa, tetesan air matanya tidak tertahankan, di saat mengantar kedua jenazah ayah bundanya ke tempat peraduan, teringat akan nasihat dari bunda, tentang indahnya hidup dalam naungan islam, terbayang saat ayah mengajarkannya shalat dan membaca Al Quran, kini di saat dia ingin membahagiakan kedua orang tua, sudah terlambat, mereka telah di jemput Yang Maha Kuasa.
Di rumah, di sudut kamarnya, dia ambil mushaf kecil yang sudah berdebu, entah berapa tahun Al Quran itu tersimpan disana, ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan ayah bunda saat usianya enam tahun, terbayang lagi masa kecil saat hafalan Al Qurannya yang sudah mencapai 15 juz, masa-masa indah bersama orang tua memang anugerah terindah, Hafiz merasa bersalah, ketika tingkah lakunya banyak berubah, saat hati ayahnya sesak menahan sakit akibat segala maksiat yang dilakukannya, saat tetesan air mata bunda karena sifat kasarnya, mulai saat itu, dia bertekad untuk mengubah jalan hidupnya.
Dia jauhi segala kemewahan dunia, dia tinggalkan segala kemaksiatan yang pernah ada, hari-harinya di lalui dengan menuntut ilmu, membaca, menulis, berdakwah, dan sebagainya, sehingga dia dipercayakan teman-temannya menjadi ketua Lembaga Dakwah Kampus di tempatnya menuntut ilmu, kadang dia juga mengisi tausiah di beberapa masjid, dan mengisi acara radio di salah satu stasion radio swasta.
Untuk mengisi hidupnya, Hafiz membuka sebuah usaha sederhana, berdagang handphone kecil-kecilan, usaha yang berhasil dibangunnya melalui modal dari warisan orang tua, pelatihan memperbaiki handphone yang dia dapatkan dari temannya sangat membantu, kadang dalam sehari, dia bisa mendapatkan puluhan handphone rusak dari para pelanggan.
Malam ini, Hafiz mendapat sebuah pekerjaan yang lumayan rumit, sebuah handphone dari pelanggan yang pecah LCD membuat pikirannya harus focus, dia harus mengganti komponen LCD yang pecah dengan komponen baru, dengan penuh konsentrasi, hafiz menyatukan kaki-kaki kecil di komponen LCD, satu kaki saja meleset, maka bisa berakibat fatal.
Tetesan keringat mulai mengalir dari wajahnya yang putih, saat asiknya masuk kedalam dunia pekerjaannya, Adzan isya berkumandang, membangunkan tiap kehidupan yang mulai terlelap di telan malam, Hafiz kaget, sudah hampir 20 menit dia mengerjakan Handphone pelanggan, dia taruh handphone dan peralatannya di kotak khusus, agar tidak tercampur dengan handphone yang lain, saat menuju pintu, telpon berdering, memecah suasana sepi penghuni rumah, Hafiz urung melangkah, pikirannya mulai terbagi, telpon terus berdering, lalu dia berbisik dalam hati.
“ Lebih baik memenuhi panggilan Allah dulu, soal telpon gampang, lagipula akhirat lebih utama daripada dunia. “
Lalu dengan senyuman manis, Hafiz melangkah menuju masjid, meninggalkan suara ribut dering handphone di dalam rumahnya.
Usai shalat, Hafiz merenung di dalam masjid, pikirannya terus berputar, ada apa dengan pemuda zaman sekarang? Masa yang azan sudah kakek-kakek, imamnya juga sudah kakek-kakek, jamaah yang shalat juga kebanyakan sudah berusia lanjut, kemana para generasi muda zaman sekarang, apa gemerlap dunia sudah sangat mempengaruhi mereka? Hafiz terus merenung sendirian, otaknya berputar mencari bahan, siapa tahu muncul ide untuk nulis cerpen atau artikel tentang generasi muda zaman sekarang.
Saat melangkah pulang, mata Hafiz melotot, menatap pelataran masjid, sandalnya tidak terlihat, lalu Hafiz memutar, mengitari setiap sudut halaman masjid untuk mencari sandalnya yang lenyap, tetap saja tidak ditemukan, hatinya mulai tak karuan, bingung apa yang harus dilakukan, lalu sebuah isyarat hati membuyarkan lamunan, pikiran positifnya mulai berjalan.
“ Lebih baik kehilangan sandal, daripada kehilangan shalat berjamaah. “
Hafiz melangkah pulang tanpa alas kaki, jarak yang ditempuh memang lumayan jauh, namun ketenangan hatinya karena sehabis menghadap Yang Maha Kuasa, membuat pikirannya selalu nyaman.
Di tempat sepi, sebuah mobil melaju kearah tubuh Hafiz, hampir saja menabraknya, Hafiz menggulingkan tubuhnya untuk menghindar dari mobil, mobil berjalan tak karuan, lalu menabrak sebuah dinding beton, Hafiz bangkit, dia bersihkan segala bubuk-bubuk tanah yang mengotori baju putihnya, dia urut-urut dadanya sembari banyak mengucap istigfar.
“ Dasar bodoh, nabrak orang saja tidak bisa. “
Terdengar suara di dalam mobil, kegeramannya membuat pecah kesunyian malam, Hafiz kaget bukan kepalang, siapa gerangan yang berada di dalam mobil, sehingga suaranya seperti guntur yang menimpa siang bolong, Hafiz memperhatikan tiap sudut badan mobil, pintu mobil mulai terbuka perlahan, terlihat tiga sosok orang berbadan besar, rambut mereka panjang awut-awutan, penampilan mereka seperti preman jalanan, mata Hafiz menelusuri ketiga orang di depannya.
“ Hai Hafiz, masih ingat sama aku? “ Gertak seorang berbaju merah diantara mereka, Hafiz mencoba mengingat-ingat, siapakah gerangan dirinya, akhirnya bayangan dua tahun yang lalu muncul, kepalanya mulai terbayang, Hafiz ingat bahwa pria itu adalah orang yang mencoba merampoknya di sebuah tempat hiburan malam, namun naas, pria itu malah babak belur di hajar Hafiz, sehingga masuk rumah sakit dan hampir tewas, padahal keadaan tubuh Hafiz waktu itu sedang mabuk berat, jalannya tak beraturan, teler sempoyongan.
“ Oh Herman kan? Assalamualaikum, apa kabar? Lama tak jumpa. “ Sapa Hafiz dengan santun kepada Herman, pria yang mulai di kenalinya.
“ Ahhh…, banyak bacot loe, kejadian malam itu takkan kulupakan, sekarang waktunya pembalasan. “ Balas Herman dengan geram.
“ Afwan, saat itu saya hanya membela diri, tetapi saya memang tidak terkendali sehingga membuatmu masuk rumah sakit, lagipula kalau ada orang yang ingin merampokmu, apalagi saat itu kamu sedang mabuk berat, bagaimana menurutmu? “
“ Afwan afwan, gue kagak ngarti , bakwan gorengan itu maksud loe, ini adalah waktunya bagimu untuk menerima pelajaran, hei semua, ayo kita selesaikan sesuai adat. “ Kata Herman kepada lima orang anak buahnya.
Salah satu anak buah Herman jadi bingung, lalu bertanya kepadanya.
“ Sesuai adat, maksudnya apa bos? Kan adat itu banyak, ada adat Jawa, adat Banjar. “
Herman menoleh kepada anak buah yang bertanya, dengan muka masam, dia menimpali.
“ Sesuai kekeluargaan maksudnya !!! “
Anak buahnya yang lain kembali menimpali.
“ Apalagi kekeluargaan, banyak lagi bos, ada paman, bibi, kakek, dan yang lain. “
“ Sontoloyo kalian berdua, maksud aku hajar dia!! “ Teriak Herman kepada kedua anak buahnya, sehingga membuat mereka semua kalang kabut dan mulai menyerang Hafiz.
Hafiz bersiap menerima penyerangan mereka, dua orang mulai mendekat, pukulan dari kedua anak buah Herman mulai mengacung ke wajahnya, tetapi berhasil dihindarinya, Hafiz tidak membalas memukul, hanya balas mendorong tubuh mereka berdua sehingga kedua anak buah Herman terpelanting ke tanah, Hafiz memang tidak ada niat menyakiti mereka, hanya membela diri, apalagi latihan karate yang dia pelajari waktu kecil masih terlihat sempurna.
Melihat kedua anak buahnya terjatuh, Herman mulai geram, dengan teriakan yang memecah kesunyian malam, Herman mulai menyerang Hafiz, namun hafiz selalu berhasil menghindari tiap pukulan dan tendangan Herman yang membabi buta, lalu dengan langkap sigap, Hafiz berhasil menangkap kedua tangan Herman, memasungnya kebelakang, dan mengikat kedua tangannya dengan tali yang sudah dia persiapkan.
Melihat kedua anak buah yang tak berdaya, dan Herman yang terikat, Hafiz mendekati mereka dengan santun.
“ Saudara Herman, afwan itu berarti maaf, semoga menjadi ilmu baru dan menambah wawasanmu, mengenai kejadian waktu lalu, aku memang pantas mendapat balasannya, jadi ikatanmu kulepas, silakan kamu memukulku sekali, aku tidak akan melawan. “
“ Benar apa yang kau katakan “ Jawab Herman.
“ Iya, silakan, aku tidak akan berbohong, tapi hanya satu pukulan, oke. “
“ Baiklah. “
Hafiz kemudian melepas ikatan di kedua tangan Herman, lalu Hafiz berdiri, bersiap menerima pembalasan, Hafiz pasrah dengan apa yang menimpa dirinya, di dalam hati, istigfarnya selalu di ucapkan, semoga menjadi pelebur dosa di masa lalu.
Tidak lama kemudian, sebuah tinju melayang dan menghantam wajah Hafiz, Hafiz terjatuh ke tanah, setetes darah segar mengalir dari sudut bibirnya, Herman terlihat puas melihat perlakuannya, lalu Herman menatap kepada anak buahnya.
“ Hei, jangan diam saja, ayo hajar dia. “
“ Lo, bukannya bos berjanji hanya memukulnya satu kali. “ Jawab salah satu anak buah Herman.
“ Persetan dengan janji, ayo hajar dia. “ Teriak Herman.
Akhirnya pembalasan pun terjadi, Hafiz di hajar mereka secara membabi buta, darah segar mengalir semakin deras, menyisakan sebuah tubuh tak berdaya, mobil berjalan, meninggalkan jasad lemah yang semakin jatuh, petir mulai berbunyi, awan hitam bergumpal di langit, hujan deras mengguyur bumi, membasahi badan yang rapuh, Hafiz berusaha menyeret tubuh lemahnya untuk berteduh, namun tak sanggup.
Saat kondisinya semakin lemah, terlihat seorang gadis cantik berkerudung lebar, berjalan cepat dengan payung di tangannya, dengan tergesa dia mengulang hafalan Al Quran yang ada di tangannya, malam ini hafalan tersebut akan di setorkan kepada sang ayah tercinta, di persimpangan Jalan, betapa terkejutnya sang gadis ketika melihat sesosok tubuh tak berdaya berlumuran darah sedang terbaring di tanah, dengan memburu, gadis itu mendekati tubuh Hafiz untuk memberikan pertolongan.
***
Bayangan putih mulai mengitari pandangan, samar terdengar suara alunan Al Quran mengalun lembut, sinar cahaya mulai menangkap kegelapan malam, lalu satu titik cahaya mulai muncul, cahaya itu semakin luas dan melebar, pandangan kabur mulai memudar, Hafiz membuka perlahan kedua kelopak matanya, dia kitari lingkungan di sekitarnya, sang gadis menghentikan bacaan Al Qurannya.
“ Alhamdulillah, akhirnya kamu sudah siuman. “
Sebuah suara lembut mengejutkan diri Hafiz, membuyarkan lamunan, dan menghilangkan rasa penasaran, sudut mata Hafz menerawang, menangkap sesosok gadis berkerudung biru di depannya.
“ Aku ada dimana? “
“ Alhamdulillah, kamu dah siuman, kamu sedang ada di rumah sakit, 2 jam yang lalu aku menemukanmu pingsan di jalan. “
Hafiz menerawang, mengingat hari pembalasan dari orang yang menghajar tubuhnya.
“ Terima kasih mbak, sudah menyelamatkanku. “ Kata Hafiz kepada gadis berkerudung biru.
“ Berterima kasihlah pada Allah mas, kata dokter, kondisi fisikmu sangat prima, sehingga tubuhmu bisa bertahan, seandainya orang biasa, mungkin kamu bakal lebih ambruk lagi, dan sayapun tidak menyangka, kamu bisa siuman secepat itu. “
Hafiz hanya membalas jawaban gadis dengan senyuman, tidak lama kemudian, dering handphone berbunyi, membuyarkan lamunan keduanya, sang gadis berusaha mengambil handphone di saku jubahnya, kemudian dia terlibat percakapan dengan seseorang.
“ Maaf mas, barusan ayah nelpon, kayaknya saya harus pulang dulu, nanti dokter akan datang untuk merawatmu. “
Si gadis kemudian berbalik, menuju keluar, saat tangannya menyentuh pintu, suara Hafiz mencegatnya.
“ Tunggu mbak, tunggu sebentar. “
Si gadis berhenti, kemudian menatap Hafiz.
“ Nama Mbak siapa? “
“ Aufa Azzahra, panggil saja Aufa “ Jawab si gadis kemudian berlalu, meninggalkan Hafiz.
***
Tubuh Hafiz memang kuat dari dulu, sehingga setiap pukulan dan tendangan yang dia terima seakan angin lalu saja, setelah satu hari dirawat, kini tubuhnya telah kembali normal, hanya sedikit bekas luka saja yang masih tampak kelihatan, Hafiz berjalan pelan menuju pulang, udara cerah seakan menyapa tubuh seorang pejuang, yang habis mendapatkan sebuah pembalasan, pelebur dosa dalam kehidupan, meskipun cara mereka terlalu kejam, namun pikiran positifnya terus berjalan.
Sesampainya di tempat tujuan, betapa kagetnya Hafiz ketika melihat tempat naungan, luluh lantah di telan tanah, menjadi abu di jalanan, rumahnya hancur berantakan, menyisakan bubuk putih berserakan, berhamburan bagai di telan lautan.
“ Apa yang terjadi dengan rumahku? “
Sebuah pertanyaan masuk ke relung hati yang terdalam, hanya satu hari dia tidak kelihatan di kampung halaman, namun rumahnya sudah lebur menjadi arang.
“ Hafizzz…..”
Teriakan seseorang memecah lamunan, Hafiz kaget bukan kepalang, seorang bapak berlari cepat ke arahnya.
“ Rumahmu Hafiz…., rumahmu di bakar Herman dan anak buahnya, para penduduk sudah berusaha menangkapnya, namun mereka berhasil lolos dari kejaran, barang barangmu pun tidak sempat diselamatkan. “
Hafiz tertunduk lesu, tiada lagi harta selain apa yang melekat di badan, hanya pakaian usang dan beberapa perban, namun pikiran positifnya harus terus berjalan, ini hanyalah sebuah ujian, Allah tidak akan menguji seseorang melampaui kesanggupan hambaNya.
Suara azan bergema memecah kesunyian, Hafiz berjalan menuju masjid, dia ingin mencurahkan segala permasalahan kepada Allah, agar hatinya semakin tenang.
***
Dengan modal seadanya, Hafiz membeli sebuah peralatan, sikat dan semir sepatu, untuk sementara, dia mengisi jalan hidupnya dengan jadi tukang semir, sebagai penjemput rizki untuk modal makan.
Panasnya terik mentari seakan membakar kulit, tubuh Hafiz yang putih mulai memerah, keringat berkucuran, siang ini Hafiz sudah memperoleh uang 15 ribu, lumayan buat makan siang, Hafiz berjalan menuju rumah makan, sesampainya di tempat tujuan, Hafiz di cegat oleh seorang nenek tua yang sangat memprihatinkan, pakaiannya lusuh dan tak beraturan, berharap sebuah sedekah untuk sesuap makan, hati Hafiz miris melihat penderitaan, tanpa pikir panjang, dia sedekahkan semua penghasilannya kepada sang nenek, sang nenek begitu gembira, rasa bahagianya sungguh tidak bisa dilukiskan.
Matahari semakin meninggi, sudah pukul 2 siang, perut Hafiz mulai keroncongan, apalagi pagi tadi hanya sepotong roti yang dia makan, perutnya semakin tidak tertahankan, matanya mulai berkunang kunang, saat kondisi tubuh semakin menurun, muncul sebuah harapan, Hafiz menemukan sebungkus roti di jalan, suasana jalanan sepi begitu mencekam, Hafiz mengambil roti itu, kemudian mulai makan, mengganjal perutnya yang semakin keroncongan, saat setengah roti masuk kedalam mulut, Hafiz mulai kaget bukan kepalang, dia belum tahu siapa pemilik roti ini, apalagi dia belum meminta izin untuk memakannya.
Hafiz mengitari lingkungan, tiada seorangpun terlihat, hanya udara yang menemani, kemudian Hafiz berjalan ke sebuah rumah di dekat roti di temukan, dengan sangat santun dia ucapkan salam, dan bertanya siapa pemilik roti ini, namun tuan rumah tidak tahu menahu soal roti itu, tuan rumah menjelaskan, biasanya tiap pagi ada orang jualan roti keliling, siapa tahu dari sepedanya, sebungkus roti terjatuh di jalan.
Besok paginya, Hafiz menunggu tukang roti di persimpangan jalan, rintik hujan mulai turun, membasahi setiap arena kehidupan, namun sedikitpun Hafiz tidak beranjak, meski tubuhnya basah kuyup dan di terpa rasa dingin yang mencekam, dia lebih takut barang haram masuk ke dalam tubuhnya, karena belum mendapat izin memakan roti orang.
Hujan turun semakin deras, tubuh Hafiz mulai lemas, pijakan kakinya sempoyongan, saat harapan mulai hilang, terlihat tukang roti mulai datang, harapan yang memudar mulai bangkit, dengan secepat kilat, Hafiz berlari mendekati tukang roti.
“ Maaf pak, bapak penjual roti keliling yang biasa lewat di jalan ini? “
“ Benar dik, ada apa ya? “
“ Begini pak, kemarin perut saya sangat lapar, lalu saya menemukan sebungkus roti di jalan, saya yakin itu roti bapak yang jatuh, lalu saya sudah memakannya setengah, jadi saya cuma mohon keridhaan bapak sebagai pemilik roti. “
“ Oh begitu dik, hmm.. jarang ada anak muda sepertimu, sementara perilaku korupsi sangat berhamburan di Negara kita, ya sudah, singkat saja, bapak akan meridhakan roti itu, asal kamu bekerja jualan roti selama tiga bulan, tanpa bayaran, bagaimana? “
Hafiz kaget bukan kepalang, namun dia lebih memilih pilihan itu daripada harus mendapat dosa akibat memakan barang haram.
“ Baiklah pak, saya akan jual roti bapak selama tiga bulan tanpa bayaran. “
Lalu dimulailah, perjuangan seorang Hafiz dengan berjualan roti, di tengah terik mentari yang membakar kulit, dan guyuran hujan yang mempersulit, namun ridha Allah berupa ampunan atas dosa yang dilakukan, adalah semangatnya dalam berjuang.
Siang malam Hafiz jualan roti tanpa bayaran, hanya saja bapak pemilik roti bukan orang sembarangan, beliau bukan bapak yang kejam, karena jatah makan selalu di berikan.
Tiga bulan akhirnya berlalu, ini waktunya minta keridhaan, kepada bapak atas roti yang dia makan, dengan senyum cemerlang, Hafiz menghadap bapak pemilik roti.
“ Pak, sudah tiga bulan saya bekerja, sekarang saya minta ridha atas roti yang saya makan dulu. “
Bapak pemilik roti tersenyum.
“ Hafiz, aku akan merelakan roti itu asal kamu mau menikahi putriku, dia gadis bisu, tangannya buntung, dan kakinya lumpuh, bagaimana? “
Bagai petir yang menyambar di siang bolong, Hafiz kaget bukan kepalang, demi roti yang dia makan, dia harus menikah dengan gadis seperti itu, namun rasa takut kepada Allah atas roti yang haram lebih membuatnya mengambil pilihan, menikahi gadis bisu, bertangan buntung, dan lumpuh kakinya.
Tanpa pikir panjang, Hafiz menerima tawaran bapak pemilik roti, untuk menikahi putrinya, dengan langkah gontai, Hafiz menemui calon istrinya, begitu sampai di rumah, dua calon pengantin di pertemukan.
“ Hafiz, tunggu disini, aku akan memanggil putriku, kata bapak pemilik roti kepada Hafiz. “
Saat di panggil, sesosok gadis muncul, betapa kagetnya Hafiz saat melihat anak pemilik roti, dia tidak menemukan kecacatan sedikitpun pada fisik calon istrinya, bahkan gadis itu mempunyai kecantikan sempurna, apakah memang dia calon istri yang di maksud, atau anak bapak yang lain, saat dua pandangan bertemu, Hafiz kaget, keringat dingin mulai keluar, dengan suara pelan, Hafiz berucap sesuatu.
“ Aufa Azzahra “
Aufa Azzahra, gadis yang pernah menyelamatkan hidupnya.
“ Maaf pak, apa saya tidak salah, diakah calon istriku? “ Sementara itu, Aufa tersenyum malu kepada Hafiz
“ Iya, dia calon istrimu, aku akan merelakan roti yang kamu makan, asal kamu bersedia menikah dengannya. “
“ Tapi, bukankah putri bapak seorang gadis bisu, bertangan buntung, dan lumpuh kakinya, kalau putri bapak yang ini, dia adalah bidadari dambaan setiap pria, tentu banyak pemuda yang terpikat olehnya, saya tidak mengerti maksud bapak. “
Dengan bijaksana, bapak pemilik roti menjawab
“ Iya, dia gadis bisu, maksudnya dia tidak pernah berbicara kotor, lagi kasar, setiap ucapannya selalu lembut dan santun, dia gadis buntung, maksudnya tangannya tidak pernah sekalipun melakukan kemaksiatan, dan dia gadis lumpuh, karena dia tidak pernah melangkah menuju tempat maksiat, jadi apakah kamu mau menikah dengannya? “
Hafiz baru mengerti, rasa gembira tidak bisa di sembunyikannya, saat pertama kali bertemu Aufa Azzahra, saat itu pula Hafiz mengenal yang namanya cinta, dari dulu siang malam dia berusaha mencari gadis dambaannya, namun takdir selalu melumpuhkan harapannya.
Tetapi, harapan ini bangkit kembali, setelah mulai memudar dan menghilang, pesona bidadari mulai mekar, dua hati terpaut jalinan suci, dalam ridha Ilahi, menjadi sesosok pengantin dunia akhirat, hingga menempuh surga, bahagia selama lamanya.
Amuntai, Jum’at 5 Februari 2010, jam 5.25 sore
Sebagian diambil dari kisah nyata

Pesona Pandangan

21.11 Posted In Edit This 0 Comments »

Di lubuk hati terdalam
Benih Cinta mulai berkembang
Diliputi rasa kebahagiaan
Selalu teringat sang pujaan
Namun saat kubaca FirmanNya
Jagalah pandangan demi kemuliaan
Hatiku terbesik rasa keraguan
Ada apa dengan pandangan
Mungkin pesona Yusuf terlalu hebat
Membuat semua pandangan menjadi terpikat
Sehingga cinta Zulaikha tumbuh mengakar kuat
Wahai Cantik
izinkan kami berevolusi diri
bantulah kami dalam menjaga pandangan
tutuplah auratmu demi kemuliaan
jangan biarkan kami terlena karena wewangian tubuhmu
pelihara telinga kami dari kelembutan suaramu
niscaya kamu akan mendapat kemuliaan disisi Allah
di doakan ribuan malaikat
dan dicemburui para bidadari surga

Amuntai, Sabtu 20 Februari 2010, pukul 3.25 siang
HambaNya yang berusaha menepis jerat syaitan
Meski air mata menitik tak tertahankan

Irza Setiawan

Cuplikan Novel Baru

20.10 Posted In Edit This 0 Comments »


( Maaf berhubung masih di tulis, jadi Judulnya Belum Ada, kalau ada yang mau ngasih masukan buat judul cerita ini, silakan :) )

BAB I : Sebuah Ujian Allah


Gemuruh hati yang tak tertahankan, begitu menghimpit qalbu ini, rasa sesak di dada, semakin menghantui dari hari ke hari, di balik malam temaram yang semakin gelap, pekikan guntur yang menyayat, desiran angin yang menyesakkan dada, derasnya hujan yang menghimpit, aku terpaku dalam keheningan malam, memikirkan nasib yang semakin malang, dibalik himpitan ekonomi yang mematikan, berpadu dengan sakitnya suasana hati yang dikhianati, dihancurkan bagai tak bersisa, harga diri diinjak-injak bagai tanah becek yang berguduk tak rata.
Malam yang kelam, satu minggu yang lalu, ujian itu datang, sebuah usaha sederhanaku, yang dikumpulkan dari modal hutang kesana kemari, ludes dilalap api dalam sehari, si jago merah itu dengan angkuhnya menertawakan hidupku, senyum kemenangan di balik kobaran tubuhnya yang merah begitu mempercundangi diriku, setelah menghancurkan sisa warisan keluarga, berupa ruko yang sederhana, di lumat habis dengan dasyatnya, sehingga berbentuk puing-puing sisa, berpadu dengan abu yang bebas di tiup angin kemana-mana.
Ternyata masalah belum habis, tepat dimalam itu juga, calon istriku yang selama ini kupercayai, dengan segenap ketulusan hati, dimana rasa cintaku dilabuhkan tak terperi, mengkhianatiku begitu saja, setelah dengan puasnya dia mengeruk dompetku, kubayarkan biaya kuliahnya dengan segenap tenaga, kubiayai hidupnya dengan tetesan keringat yang tak hentinya mengalir, namun begitu jalan rezekiku satu-satunya ludes, dengan wajah masam, dia lempar cinta ini begitu saja, dia khianati ikrar janji yang selama ini kupegang dengan teguh.
Aku semakin muak dengan dunia, selalu saja ada cobaannya, tidak ada rasa kesenangan yang membuatku bangga, tidak ada penyejuk jiwa dikala duka, aku bagai mayat yang berjalan di atas dunia, siang malam selalu meneguk minuman haram untuk memuaskan jiwa, menghilangkan setiap masalah yang menghantui pikiran, saat kepalaku pusing tak menahan, kuhisap obat penenang, yang bisa membuatku melayang, sehingga setiap masalah terlupakan untuk sementara waktu.
Ucapan dari seorang preman bayaran, yang minta aku untuk melunasi hutang, sebesar tiga puluh juta itu terus menghantui pikiran, setiap barang yang kuambil untuk diperdagangkan, telah melebur karena kobaran api itu, modal usaha ludes tak bersisa, hanya menyisakan utang yang semakin memperkeruh suasana.
Dua hari lagi, jatuh tempo pembayaran akan tiba, darimana aku dapat uang sebanyak itu, aku semakin menggaruk kepalaku yang tidak gatal, rambutku yang sebahu semakin kumal saja, sebuah ancaman dimana aku harus mengosongkan rumah kalau tidak bisa membayar hutang kembali hadir dengan gagahnya, membuat syaraf kepalaku semakin pening, bagai di hantam palu dengan berat jutaan ton.
“ Yusuf, hidupmu kok kacau begini, coba deh kamu temuin Ustadz Ahmad, minta nasihat sama beliau, semoga jalan hidupmu berkah. “
Ucapan dari Barak, teman seperjuanganku sejak kecil itu membuyarkan lamunan, di saat suka dan duka, memang dia selalu ada menghiasi hati ini, dia sahabat sejati yang selalu ada saat air mata menetes tak tertahankan, tak pernah ragu dalam membantu kesulitan teman
Masa iya sih, seorang Ustadz yang dimuliakan orang, dimana ucapannya selalu di dengar orang, penuh ilmu dan pelajaran, mau bertemu dengan orang kacau sepertiku, apakah pemaksiat sejati sepertiku, dimana para iblis masih suka bergelantungan di urat nadiku, pantas masuk ke rumah seorang ustadz yang selalu di hiasi bacaan Al Quran, apakah wajah kusam ini pantas bertemu dengan seorang manusia yang wajahnya selalu dibasuhi air wudhu.
Ah….., pikiranku semakin kacau, dasar juragan karet tak tahu aturan, sudah tahu aku tidak punya uang, usaha lenyap melayang, malah seenaknya menagih hutang, sebanyak tiga puluh juta rupiah, darimana aku dapat uang sebanyak itu, jangankan bayar hutang, beli minuman keras saja aku sudah tidak mampu untuk menenangkan pikiran, di dompet cuma tinggal sepuluh ribu rupiah, tidak bisa makan tiga kali sehari besok hari, kecuali merebus mie instant.
Ya udah, daripada aku berdiam diri, sementara waktu terus berjalan, sebentar lagi bayar utang, aku coba saja deh nemuin itu Ustadz, semoga saja dia mau berbaik hati memberikan pinjaman.
Kupasang jaket kumalku, lalu aku mencoba keluar rumah, rumah yang harus dikosongkan jikalau aku gagal minta pinjaman, dari seorang Ustadz yang kata orang sangat dermawan.
Jalan kaki sebentar, begitu sampai pertigaan, kulihat ada ojek nganggur, lumayan lah buat minta tumpangan.
“ Mau kemana dik, Mau kuliah ya ? “ Tukang ojek berwajah tua dengan kumis tak rata itu menyapaku.
“ Anterin ke rumah Ustadz Ahmad “ Balasku santai
“ Maaf, kemana dik? Telingaku agak budeg juga habis kemasukan air “ Jawab tukang ojek itu sambil menggaruk-garuk telinganya, aku semakin jengkel saja dengan tingkahnya
“ Ke rumah Ustadz Ahmad “
“ Dengan pakaian seperti ini? Apa pantas tuh. “
Tukang ojek ini seenaknya saja menceramahiku, memang pakaianku kurang pantas, baju kaos, celana jeans dengan jaket kulit yang menggantung di bahu, aku tahu niatnya baik, menyuruhku pakai baju busana muslim untuk bertemu Ustadz biar cakep, tapi suasana hatiku sedang tidak nyaman, pikiranku jauh melayang ke tiga puluh juta rupiah yang harus dibayarkan.
“ Ya sudah pak, jalan saja “ kataku santai.
Suasana kota yang tak ramai membuat tukang ojek ini menjadi pembalap dadakan saja, begitu kencangnya sampai angin menubruk wajahku, membuat rambutku menari tak beraturan kemana-mana.
Sesampainya di tempat tujuan, pesantren yang di asuh Ustadz Ahmad, begitu banyak para santri yang terlihat komat kamit menghafal Al Quran, ada juga yang menimba air untuk perlekapan mencuci dan memasak.
“ Pak bayar ojeknya ngebon dulu ya, rezeki lagi seret nih. “
“ Ya udah gak papa. “ balas tukang ojek dengan santai
Wah, untung tukang ojek itu mengerti keadaan, sifatnya tidak segalak wajahnya, dan hatinya tidak sejengkel kelakuannya, kuhirup nafas untuk meredakan gemuruh detak jantungku yang tak beraturan, seperti lautan yang di hamburkan ombak saja nih jantung, baru satu langkah, tukang ojek itu menepuk pundakku, aku berbalik menatap wajahnya.
“ Jangan nakal ya… “
Ucap tukang ojek itu sambil tersenyum manis kepadaku.
“ Iya deh jawabku. “
“ Loh, jangan iya deh dong, jawab saja dengan Insya Allah. “
“ Maksudnya apa pak ? “ Tanyaku dengan sedikit heran, karena tukang ojek ini mencoba merubah gaya bicaraku.
“ Insya Allah, maksudnya jikalau Allah menghendaki, siapa yang tahu bagaimana keadaan kita satu detik selanjutnya kecuali Allah “
“ Oh begitu, Insya Allah, betul betul betul, jawabku sekenanya, meniru ucapan kartun Upin Ipin yang selalu menghiasi masa suntukku. “
Aku berjalan di balik suasana udara yang cerah, perlahan-lahan mendekat ke tempat tujuan, aku tidak tahu debaran apa yang sedang terjadi di hati, keringat mulai membanjir, kulitku seakan mati rasa, kuketuk pintu rumah sambil mengucap salam.
“ Assalamualaikum “
“ Waalaikum salam. “
Terdengar suara ustadz Ahmad dari dalam, beliau mempersilakanku masuk dengan ramah, namun aku berdiri mematung, gugup tak beraturan, seperti bertemu bapak presiden saja, lidahku kelu untuk digerakkan.
“ Loh, kok malah bengong nak, silakan masuk. “
“ Iya Ustadz. “
Kumasuki rumah sederhana ini, di ruang tamu tergeletak sebuah lemari kaca penuh dengan kitab suci Al Quran, ada juga sebuah rak yang di penuhi kitab-kitab, entah buku apa itu, yang pasti aku masih belum mengerti.
Segelas teh hangat dan sepotong roti menemani waktu santai kami, sebenarnya agak kurang tepat juga disebut santai, karena gemuruh hatiku benar-benar kacau, seperti bom waktu yang mau meledak saja, di mataku terngiang uang tiga puluh juta rupiah, lalu bayangan itu berubah menjadi wajah sangar sang juragan karet yang mau menagih hutang, menertawakan ketololanku, suara tawanya benar-benar membuat gendang telingaku hampir pecah.
“ Kamu melamun ya? “
Suara Ustadz Ahmad mengagetkanku, mungkin beliau bisa membaca tatapan kosong mataku.
“ Perkenalkan, saya Muhammad Abdullah Yusuf, temannya Barak, salah satu santri dari Ustadz, begini Ustadz, saya punya masalah yang cukup rumit, saya punya hutang sebanyak tiga puluh juta rupiah, dua hari lagi jatuh tempo, kalau saya belum bisa bayar, maka rumah yang saya tempatin, harta saya satu-satunya bakalan di ambil. “
“ Oh begitu...., kamu punya uang tiga juta rupiah gak? Sepuluh persen dari tiga puluh juta. “
“ Waduh, nyerah deh ustadz, saya tidak punya. “
“ Kalau dua setengah persennya. “
“ Berapa tuh Ustadz? “
“ Tujuh ratus lima puluh ribu. “
“ Ustadz, saya ini kesini naik ojek, dan ni mau minjam dulu sama Ustadz buat bayar ojek. “
“ Yah, kelewatan lo, seharusnya kalau datang ke guru, bawain nanas, anggur, atau apalah, biar mendoakannya nyaman, ini malah minjam “ Jawab Ustadz Ahmad sambil tertawa, gigi putihnya menyilaukan mataku saja.
Waduh, benar-benar pusing juga aku bertemu Ustadz yang satu ini, udah duit sedikit, diceramahin.
“ Nah, itu yang kamu pegang apaan? “
Suara Ustadz Ahmad mengagetkanku, kulihat tangan kananku, sebuah handphone yang sudah tiga tahun menemaniku ternyata yang ditanyakan.
“ Ustadz, ini namanya handphone, lewat alat ini kita bisa berhubungan dengan orang, bisa SMS, chating, dan sebagainya “
“ Iya, saya tahu, maksudnya, kira-kira harganya berapa? “
“ Mungkin sekitar sejuta dua ratus lima puluh ribu rupiah. “
“ Oh begitu, dik, ambilkan kakak uang lima ratus ribu. “ Ustadz Ahmad menyuruh istrinya untuk mengambilkan uang, wah lumayan lah, lima ratus ribu juga bisa menyenangkan hatiku, seperti dapat harta karun di dalam lautan saja, hatiku benar-benar berbunga.
Begitu lima ratus ribu sudah di tangan, keren banget ini uang, wajah pahlawan di lembaran uang ini seperti tersenyum manis kepadaku, mataku seakan silau melihat tumpukan uang ini.
“ Ini buat kamu “ Kata Ustadz Ahmad sambil memberikan uang lima ratus ribu ketanganku, aku menerimanya dengan senyum selebar-lebarnya, seandainya bibir ini bisa tersenyum sepanjang dua meter, maka akan kulakukan untuk mengekspresikan kesenangan hati.
“ Duh, makasih ya Ustadz, ternyata ada juga orang baik seperti Ustadz. “
“ Baik apanya? “
“ Ini, dikasih uang. “
“ Yah, bukannya di kasih bos, handphonemu tinggal “
Glek…, aku kaget, bagai di sambar petir di siang bolong.
“ Maksudnya Ustadz? “
“ Harga handphone ini kan sejuta dua ratus lima puluh ribu, ini lima ratus ribu aku kasih buat kamu, kan dua setengah persen dari tiga puluh juta itu tujuh ratus lima puluh ribu, nah hasil dari penjualan handphone ini, kamu bayarin ke Allah lewat sedekah. “
“ Whhaaaaatttt……????? “


BAB II : Getaran Hati


Cuaca panas yang membakar kulit ini semakin membuat kepalaku sakit, niat ingin minta uang malah kerampokan, aneh, untung saja aku bisa menyembunyikan uang sepuluh ribu di dompetku, kalau ketahuan bisa diambil ustadz juga uang ini, buat sedekah lah, buat anak yatim lah, buat masjid lah, macam-macam deh alasan Ustadz berkulit putih itu, apa tidak tahu aku dicekik masalah seperti ini.
Dua hari.. oh dua hari.., pikiran masalah itu bagai sebuah nyanyian yang berputar-putar dikepalaku, dua hari lagi aku harus bayar tiga puluh juta rupiah, apa tidak gila, andai aku belajar dari master Dedy Corbuzer dulu, bisa sim salabim, keluar itu uang, namun apa daya otakku terasa buntu, tapi lumayan aku masih bisa menyembunyikan sepuluh ribu rupiah di dompetku, di tambah uang lima ratus ribu hasil dari lenyapnya handphone bututku, mungkin bisa membeli segelas minuman dulu sebagai sarana pemecah masalah sementara, ingin terbang melayang ke surga, walau jatuhnya membuat otak berantakan tak terkira.
Aku melangkah pelan mendekati warung remang-remang yang menyediakan minuman haram, malam ini aku ingin berpesta kenikmatan dulu, terbang melayang meninggalkan setiap beban yang begitu menghimpit, sehingga pikiran semakin diperumit, namun begitu aku mendekat malah kesialan yang di dapat, warungnya di grebek polisi lagi, suara ribut dan gaduh dimana-mana, seperti suara perkelahian dua ekor kucing jantan yang memperebutkan pacar, sangat mengusik kesunyian malam, begitu gagahnya sekumpulan power rangers itu menodong senjata api di setiap sudut ruangan, mengancam para penjaja kenikmatan malam yang pucat pasi karena menahan kencing, gara-gara rasa takut yang begitu menghimpit mereka.
Aku berlari sekencang-kencangnya bagai di kejar anjing, menubruk tempat sampah dan hampir masuk kedalam got, andai saat itu ada kejuaraan lomba lari, besar kemungkinan aku akan menjadi juara satu, karena begitu dahsyatnya peristiwa yang kulihat, begitu capeknya sehingga suara nafasku seperti suara merdu Gita Gutawa saja, aku duduk mematung di sebuah kursi reot jalanan, begitu reotnya ini kursi, baru naruh badan sedikit saja sudah berbunyi
Ngiikkkk…. Ngiikkk…
Suaranya seperti penyanyi tertelan mic, perutku mulai keroncongan tak tertahankan, tidak tahu mengapa lambung ini seperti menelpon otakku, sudah ingin diisi makanan untuk menambah tenaga. Kuraba saku celanaku yang sudah bolong dimana-mana, berharap bisa membeli mie instant untuk mengganjal rasa dahaga, namun rasa sialku ternyata bertambah, uang sepuluh ribu rupiah yang kusembunyikan dari Ustadz Ahmad tenyata raib entah kemana, permisi saja tidak ini uang malah pergi meninggalkanku begitu saja, kutelusuri tiap sisi jalanan berharap menemukan uang ini, namun benar-benar lenyap.
Aku pulang kerumah dengan langkah gontai, benar-benar sial malam ini, bukan yang sial bukan malam ini, tapi dunia ini benar-benar memuakkan, aku ingin pergi saja meninggalkan semuanya, biarlah nama Muhammad Abdullah Yusuf menjadi kenangan, saatnya aku mengakhiri hidup untuk melepaskan semua masalah yang menggantungi pikiran, sehingga hutang tiga puluh juta rupiah juga menghilang.
Kugantung sebuah tali perpisahan dimana tali ini akan menjadi saksi bisu kematianku, oh tali, begitu hebat kau sehingga bisa membunuh seorang Yusuf yang tiada berguna, namun karena kau juga masalahku hilang untuk selamanya, sebuah dialog terakhirku kepada dunia, begitu kulingkarkan tali di leherku yang akan mencekikku sampai kehabisan nafas, tiba-tiba azan isya berkumandang.
“ Allahu Akbar… Allahu Akbar… “
Panggilan azan bergema memecah kesunyian malam, aku berdiri termenung memikirkan diriku, sementara tali kematian sudah melingkar di leherku, sudah azan isya ternyata, dalam kebimbangan muncul tanda tanya yang menghantui pikiranku, seakan aku berbicara pada diriku sendiri,
“Rasanya sudah lama juga aku tidak shalat, ya udah yang terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau shalat dulu. “
Aku turun dari panggilan kematian, kulepaskan lingkaran tali yang mencekik leherku, lalu aku berjalan pelan ke dapur untuk mengambil air wudhu, kubuka kran ledeng dengan hati-hati, lalu disaat aku membasuh muka.
Wusss…..
Aneh, pikiranku menjadi bingung tak tertahankan, yang kubasuh wajahku, tapi kenapa hatiku menjadi tenang ya, antara bingung dan ragu aku terus menyempurnakan wudhuku, sementara suasana hatiku semakin tenang dan tentram saja.
Kuhamparkan sajadah yang harum mewangi, kuangkat takbir dengan penuh kekhusukan, kubayangkan Allah berdiri di depanku, surga di sebelah kananku, neraka disebelah kiriku, dan malaikat maut berdiri dibelakangku, air mataku menetes tak terasa, entah gejala apa ini aku masih belum mengerti, begitu salam, menengok ke kanan dan ke kiri, terlihat kitab suci Al Quran di atas meja, hatiku kembali bertanya-tanya.
“ Oh iya, rasanya sudah lama juga aku gak baca Al Quran, terakhir juga deh, sebelum bunuh diri, aku mau ngaji dulu. “
Aku bangkit mengambil kitab suci yang lumayan sudah berdebu karena di telantarkan, kubuka dengan perlahan, lalu kubaca dengan penuh penghayatan, surat Al Fatihah, surat pembuka itu kubaca dengan suara tenang, namun hati ini menjadi sejuk, sangat sulit untuk di jelaskan dengan kata-kata, rasanya mulut ini tidak akan bosan-bosan dalam melantunkan ayat suci, lagu sehebat apapun tidak akan bisa mengalahkannya, subhanallah, ayatnya, panjang pendeknya, sangat menghipnotis diriku dalam membacanya.
Selesai membaca Al Fatihah, aku bertemu dengan surat Al Baqarah.
“ Alif Lam Mim, Dza likal kitabula raiba fihi hudan lilmuttaqin ( Alif Lam Mim, Al Quran ini tidak ada keraguan kepadanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa ) ”
Masa sih? Petunjuk bagi orang yang bertakwa, wah mungkin Allah lagi menegurku nih, aku masih belum menjadi hamba yang bertakwa, makanya belum dapat petunjuk, selama ini aku menyelesaikan masalah hanya dengan caraku sendiri, tidak dengan cara Allah, Al Quran masih belum kujadikan pedoman hidup, jadi orang bertakwa gimana ya? Aku benar-benar butuh petunjuk, dengan penuh tanda tanya kubaca ayat selanjutnya.
“ Alladzina yu'minnu bil ghoibi (Yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib)“
Hmm.. betul juga ya, harus beriman kepada Allah dulu yang Maha Gaib, aku harus meyakini bahwa yang bisa menyelesaikan masalah utangku bukan diriku, bukan temanku, bukan suaraku, tapi Allah yang bisa menyelesaikan semuanya, segala usahaku hanya perantara untuk mencari karunia Allah, aku jadi teringat dengan nasihat Ustadz Ahmad bahwa kalau kita beribadah jangan untuk mencari solusi, tapi carilah Allah dulu, kalau kita beribadah hanya untuk mengejar solusi capek kita, jangan-jangan nanti bisa menyalahkan Allah, kita malah akan berkata “ Mana nih, katanya tahajud semalam kayak kun fayakun, boro-boro pagi harinya penagih hutang malah datang” Itulah kesalahan kebanyakan orang, selama ini kebanyakan manusia memakai rumus mentok, ihktiar dulu, usaha dulu, pas mentok baru ke Allah, seharusnya kita mengejar Allah dulu, rumusnya Allah ikhtiar Allah, karena itu kita melibatkan Allah dalam setiap kehidupan kita, nasihat dari Ustadz Ahmad pagi tadi terus berputar-putar di kepalaku, kuteruskan ayat selanjutnya.
“ Wayukii muunasshalat ( yang mendirikan shalat) “
Oh pantas, baru nyadar aku, pantesan waktu shalat tadi hatiku tenang, jadi ini penyebabnya, bahwa shalat bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar, bahwa shalat adalah tiang agama, bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab, subhanallah, kenapa aku baru nyadar kalau kegelisahan hati akan terusir dengan shalat, aku semakin menikmati Al Quran ini, kuteruskan ayat selanjutnya.
“ Ta wamimmaa rajaknaahum yunfiikuun ( dan yang menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka).
Baru sadar aku, kalau sedekah tidak akan mengurangi harta, kalau sedekah adalah cara untuk kaya dunia akhirat, astagfirullah, ternyata hatiku terlalu hitam sehingga keihklasan memberi hilang begitu saja, sifat kikirku terlalu membutakan hati ini, kuteruskan membaca ayat keempat dan kelima.
“ Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. “
Air mataku semakin deras, menetes bagai embun di pagi hari, hatiku sesak tidak terkira, seharian aku mentadaburi ayat Allah, semakin mantap juga imanku, bunuh diri, udah dosa masuk neraka lagi, ih.. amit-amit, ternyata iblis sudah terlalu lama menyatu dengan diriku, menertawakan setiap ketololan diriku, mulai malam ini aku harus merubah semuanya.
Kukunci semua pintu rumah, kumatikan setiap lampu ruangan kecuali kamarku, aku ingin berduaan sama Allah, malam ini aku ingin menyerahkan semua masalahku, rumah ini titipannya, jikalau Allah menakdirkan rumah ini akan diambil oleh penagih hutang, aku ikhlas, semuanya milikNya
Rasa haru di dada semakin menyejukkanku, air mataku semakin deras, semalaman aku mentadaburi ayat Allah, sampai panggilan azan subuh memanggilku, kuhapus air mataku, lalu melangkah menuju masjid untuk shalat berjamaah, masya Allah, umurku sudah dua puluh dua tahun, namun ini pertama kalinya aku shalat subuh berjamaah, dimana imanku selama ini.
***
Usai shalat, begitu menuju pulang ke rumah, aku kaget bukan kepalang, rasanya jantungku mau copot saja, kenapa banyak tamu di depan rumahku, masya Allah, apakah itu penagih hutang, kan janjinya besok pagi, kenapa datang hari ini, tapi tidak apalah, jikalau hari ini aku harus keluar dari rumah ini aku ikhlas, bumi Allah ini luas, karunia Allah masih bisa dicari, begitu aku mendekat, kutengok kutatap dan kuteliti, ternyata teman-teman kuliahku yang berkumpul, Alhamdulillah, kerutan wajah pucat pasi yang menyelimuti wajahku kembali cemerlang seperti sedia kala.
“ Yusuf….. !!!!“
Suara nyaring teman – temanku yang memanggilku begitu kerasnya, seperti suara Tarzan yang memanggil para kawanan hewan, memecah kesunyian pagi, mereka semua berlarian ke arahku, aku bagai selebritis dadakan yang ingin diminta tanda tangan para penggemar saja.
“ Ada apa teman-teman, kok ramai gini. “
Semua temanku menghampiriku dengan wajah berbunga, saking bingungnya aku seperti seekor anak ayam yang kehilangan induk, kenapa jadi ramai begini
“ Yusuf, selamat…, kau menjadi alumni dengan nilai terbaik sekabupaten tahun ini, dan kau mendapat uang tiga puluh juta rupiah sebagai penghargaan dari negara. “
“ Apa.. yang benar? “ Aku kaget tidak terkira
“ Iya benar, kalau kamu tidak percaya silakan saja browsing di internet. “
“ Subhanallah…, Allahu Akbar…. “
Tangisku pecah saat itu juga, aku langsung sujud syukur, ternyata sedekah itu meski sedikit akan di ganti Allah dengan berlipat, harus ada keikhlasan di dalamnya, hujan menitik, membasahi sujudku di bumi Allah.
( Bersambung )
Note : Mohon doanya semoga novel perjalanan Muhammad Abdullah Yusuf ini bisa saya selesaikan secepatnya, mohon doanya semoga Allah membantu saya lewat keberkahannya lewat novel ini, semoga novel ini di terima penerbit dan bisa dibaca setiap orang, sengaja saya tulis “ Belum Ada Judul “ karena saya masih bingung kira-kira judul apa yang pantas untuk cerita ini, insya Allah di sela kesibukan, saya akan berusaha menyelesaikan cerita ini secepatnya, mohon masukannya kepada saudara/i semua, karena mungkin cerita ini bisa membuat pembaca ngantuk, kalimatnya masih ngolor ngidul : ) maklum masih belajar, hehehe


Irza Setiawan

Pengunjung

Sekarang Udah Jam Segini Nih :)